14 Februari: Antara Cokelat dan Perjuangan yang Terlupakan

14 Februari: Antara Cokelat dan Perjuangan yang Terlupakan

14 Februari: Antara Cokelat dan Perjuangan yang Terlupakan
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,- Setiap tanggal 14 Februari, masyarakat kita tampak begitu akrab dengan simbol-simbol kasih sayang. Toko-toko dipenuhi bunga, cokelat, dan kartu ucapan yang seolah menjadi bukti cinta.

Namun di tengah riuh perayaan yang serba manis itu, sedikit yang menyadari bahwa di tanggal yang sama, seorang pemuda bernama Shudancho Supriyadi menorehkan bab penting dalam sejarah bangsa yaitu pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar.

Supriyadi bukan pejuang biasa. Ia adalah simbol perlawanan dari generasi muda terhadap ketidakadilan. Di bawah tekanan pendudukan Kekaisaran Jepang yang kejam, ia berani melawan, bukan karena yakin akan menang, tapi karena sadar bahwa diam adalah bentuk kekalahan yang sejati.

Tindakannya pada 14 Februari 1945 bukan hanya sebuah pemberontakan, tetapi pernyataan moral tentang bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan, meski nyawa taruhannya.

Kini, generasi muda hidup dalam zaman yang jauh berbeda. Tidak ada lagi suara senapan atau rantai penjajahan. Namun, tantangannya tetap ada—hanya bentuknya yang berubah. Penjajahan kini tak selalu datang dari luar negeri; ia bisa berupa kelalaian, ketidakpedulian, dan hilangnya semangat nasionalisme dalam diri kita sendiri. Di sinilah makna perjuangan Supriyadi seharusnya kita renungkan.

Perjuangan hari ini mungkin tidak lagi menuntut darah dan senjata, melainkan kesadaran dan tanggung jawab. Bagaimana kita menghargai perjuangan para pahlawan, bagaimana kita menjaga nilai kejujuran, dan bagaimana kita ikut berkontribusi untuk kemajuan bangsa dengan itulah bentuk perlawanan modern.

Namun sayangnya, semangat itu sering terkalahkan oleh budaya instan dan euforia perayaan asing. Kita sibuk merayakan cinta, tetapi lupa memberi cinta pada tanah air. Kita mudah terpesona oleh simbol-simbol Barat, tetapi enggan menengok ke sejarah sendiri. Padahal, mengenang Supriyadi bukan sekadar membaca nama dalam buku pelajaran, melainkan meneladani keberaniannya dalam kehidupan sehari-hari.

14 Februari seharusnya menjadi hari refleksi nasional. Bukan untuk menolak kasih sayang, tetapi untuk mengingat bahwa cinta sejati juga berarti mencintai bangsa dan perjuangannya. Cinta tanpa kepedulian terhadap tanah air hanyalah perasaan kosong tanpa makna kebangsaan.

Supriyadi telah mengajarkan bahwa perjuangan bukan hanya soal menang atau kalah, tapi soal keberanian untuk bertindak demi kebenaran. Ia mungkin hilang secara jasad, tetapi jejak semangatnya tetap hidup dalam sejarah bangsa. Ia adalah lambang bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan kemerdekaannya masing-masing.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *