Dibalik Pembangunan Gorong – Gorong, Kabel Jadi Rezeki Instan

Dibalik Pembangunan Gorong – Gorong, Kabel Jadi Rezeki Instan

Dibalik Pembangunan Gorong – Gorong, Kabel Jadi Rezeki Instan
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,Sabtu (13/09/2025)-Dimana ada galian gorong-gorong, di sanalah muncul para “penambang modern” yang bersenjatakan linggis dan gergaji. Mereka bukan mencari emas, bukan pula mencari minyak, melainkan kabel Telkom yang dianggap harta karun abad digital. Rasanya, para Indiana Jones versi kampung ini sudah menemukan tambang gratis tanpa perlu izin eksplorasi.

Aneh bin ajaib, kabel yang jelas-jelas milik perusahaan tetap dianggap barang tak bertuan. Seolah-olah kalau sudah ditimbun tanah, otomatis berubah status jadi milik siapa pun yang rajin mengais. Logika ini mirip anak kecil yang menemukan kelereng di selokan lalu berteriak, “punya aku sekarang!” – bedanya, yang dicuri bukan kelereng, tapi fasilitas publik.

Kabel itu mereka potong dengan gagah berani, seperti gladiator yang sedang menaklukkan naga. Bedanya, naga itu tidak pernah melawan, hanya diam tak berdaya. Lalu hasil potongan dijual ke pengepul dengan wajah bangga, seakan-akan baru saja menolong rakyat kecil dengan mencetak rupiah cepat. Pahlawan kesiangan pun lahir di bawah tanah.

Para pencuri pun punya dalih klise: “ekonomi sulit, perut lapar, hidup susah.” Oh, betapa indahnya alasan klasik ini. Sayangnya, banyak orang lain yang juga hidup susah tetap memilih kerja halal. Nampaknya, kerja keras memang kalah pamor dibandingkan menggali gorong-gorong dan berpose seperti penambang tembaga.

Yang lebih tragis, perilaku ini menular seperti wabah. Begitu satu orang berhasil menjual kabel, yang lain ikut mencoba peruntungan. Lahir lah komunitas bawah tanah—bukan startup digital, tapi startup kriminal. Bukan unicorn yang lahir, tapi kawanan tikus yang makin rakus.

Bayangkan jika logika ini diterapkan lebih luas: kursi kosong di balai kota dianggap boleh dibawa pulang, mobil parkir dianggap tak bertuan, atau menara listrik dianggap besi tua gratisan. Negara ini akan berubah jadi ajang rebutan harta karun liar. Hukum hanya jadi hiasan, dan maling naik pangkat jadi pengusaha.

Sudah saatnya aparat berhenti pura-pura buta. Pencuri kabel bukan sekadar pencuri receh, tapi perusak tatanan sosial. Mereka bukan hanya mengambil tembaga, tapi juga mencabut urat nadi komunikasi bangsa. Kalau dibiarkan, sebentar lagi mereka mungkin akan “menambang” jalur listrik lalu berkata: “Kan lampu masih bisa pakai lilin.”

Maka mari kita beri penghargaan satire kepada para pencuri kabel: gelar “Bajak Laut Gorong-Gorong”. Sebuah profesi unik yang menjadikan perut bumi sebagai samudra, linggis sebagai pedang, dan kabel sebagai harta karun. Sayangnya, dalam dongeng ini, rakyatlah yang jadi korban, sementara bajak lautnya berlayar dengan dompet penuh hasil jarahan.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *