Siskamling Bangkit Kembali di Tengah Ancaman Keamanan Kota

Siskamling Bangkit Kembali di Tengah Ancaman Keamanan Kota

Siskamling Bangkit Kembali di Tengah Ancaman Keamanan Kota
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,Minggu (14/09/2025)-Kehidupan perkotaan kerap diwarnai dengan dinamika yang tidak selalu tenang. Kejadian ricuh demonstran yang berujung pada pembakaran sejumlah fasilitas umum menjadi tamparan keras bagi masyarakat kota. Rasa aman yang selama ini dianggap sebagai hal lumrah, mendadak terguncang. Dari sinilah muncul kesadaran baru,bahwa keamanan bukan hanya tanggung jawab aparat, melainkan juga bagian dari kewaspadaan warga.

 

Siskamling, yang pernah menjadi simbol gotong royong dalam menjaga kampung, sempat meredup seiring hadirnya teknologi CCTV. Warga lebih percaya pada kamera digital yang tak pernah tidur, dibandingkan ronda malam yang mengandalkan tenaga manusia. Namun kenyataannya, CCTV hanya bisa merekam, bukan mencegah. Ia pasif, sementara tindak kriminal atau kericuhan membutuhkan kehadiran nyata untuk diantisipasi.

 

Bangkitnya kembali siskamling bukan sekadar nostalgia, tetapi kebutuhan nyata. Saat rasa takut menghantui pasca kerusuhan, warga akhirnya sadar bahwa mereka harus saling menjaga. Bukan berarti teknologi ditinggalkan, melainkan dipadukan.CCTV tetap ada sebagai mata elektronik, sementara manusia hadir sebagai hati dan tenaga yang siap bertindak. Kombinasi keduanya bisa menjadi kekuatan besar dalam menjaga lingkungan.

 

Namun, tak bisa dipungkiri bahwa menghidupkan kembali siskamling tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kesibukan warga, gaya hidup individualistis, serta rasa malas menjadi tantangan. Siskamling membutuhkan konsistensi, jadwal, serta semangat kebersamaan yang sering kali terkikis di perkotaan. Tanpa itu, ronda malam hanya akan menjadi seremoni sesaat yang hilang begitu situasi kembali dianggap aman.

 

Di sisi lain, keberadaan siskamling membawa dampak sosial yang sangat berharga. Ia menghidupkan kembali interaksi antarwarga, menumbuhkan rasa memiliki lingkungan, serta melatih solidaritas yang jarang ditemukan di era modern. Percakapan ringan saat ronda, berbagi kopi, hingga saling menjaga anak-anak yang masih terjaga, menjadi bagian dari kehangatan yang tidak bisa digantikan kamera pengawas.

 

Kehadiran warga yang berjaga menandakan ketegasan sosial, sebuah pagar moral yang sering kali lebih efektif daripada sekadar pagar fisik. Kriminalitas cenderung surut bukan hanya karena takut tertangkap kamera, tetapi juga karena menyadari ada kesatuan warga yang siap melawan.

 

Dalam jangka panjang, menghidupkan kembali siskamling bisa menjadi jalan untuk membangun budaya keamanan yang mandiri. Masyarakat tidak lagi sepenuhnya bergantung pada aparat atau teknologi, tetapi mengambil peran aktif menjaga lingkungannya. Ini adalah pendidikan sosial yang berharga, bahwa kebebasan dan keamanan hanya bisa terjaga jika semua pihak terlibat di dalamnya.

 

Akhirnya, kebangkitan siskamling pasca kerusuhan adalah momentum yang tidak boleh disia-siakan. Ia bukan sekadar respons sesaat terhadap ketakutan, melainkan kesempatan membangun kembali budaya gotong royong yang nyaris hilang. Jika masyarakat konsisten, maka siskamling bukan hanya akan menjaga malam tetap aman, tetapi juga menyalakan kembali cahaya kebersamaan yang menjadi identitas bangsa.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *