Surabaya,-Di bawah teriknya siang, langkah pulang seorang guru bernama Jasmine Vernadya Stevani berubah menjadi luka. Usai mengajar di SMA Mimi School Citraland, ia hanya ingin kembali ke rumah membawa lelahnya mengajar.
Namun, angin kencang di kawasan Jalan Lontar, Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri, Senin (29/09/2025) sekitar pukul 14.00 WIB, justru menghadirkan musibah.Sebuah papan nama roboh, menghantam motornya sehingga terjatuh, meninggalkan perih di kulit dan getir di hati. Bukan hanya luka yang ia terima,
Jasmine Vernadya Stevani mengungkapkan,dirinya tidak menyangka kejadian itu menimpanya.
“Saat itu saya hanya pulang mengajar, tiba-tiba papan nama roboh dan menimpa tubuh saya. Akibatnya saya mengalami luka-luka dan sangat terkejut dengan peristiwa ini,” ungkap Jasmine Vernadya Stevani, guru SMA Mimi School Citraland, Senin (30/09/2025).

Ia menuturkan, setelah kejadian dirinya berusaha menghubungi nomor seluler yang tertera di papan nama untuk mendapatkan penjelasan. Namun, respons yang diterima justru mengecewakan.
“Saya berharap ada permintaan maaf atau tanggung jawab, tetapi malah dijawab dengan kata-kata yang tidak pantas, seolah-olah saya dianggap salah,” tuturnya.
Atas dasar itu, Jasmine akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polsek Lakarsantri dengan didampingi oleh Ormas Arek Suroboyo Bergerak (ASB).
“Saya hanya ingin keadilan dan ada pihak yang bertanggung jawab, agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak menimpa orang lain,” ucapnya.
ASB hadir mendampingi korban bukan hanya sebagai bentuk solidaritas, tetapi juga untuk memastikan hak-hak Jasmine Vernadya Stevani terlindungi secara hukum.
Sekretaris Jenderal ASB, Alrein, menegaskan bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan penuh kepada Jasmine Vernadya Stevani dalam proses hukum.
“Kami menilai kasus ini bukan hanya persoalan kelalaian, tetapi juga menyangkut sikap tidak bertanggung jawab dari pemilik papan. Korban berhak mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum,” ujarnya.
Alrein menyayangkan respons tidak pantas yang diterima korban saat berusaha menghubungi pemilik papan nama. Menurutnya, tindakan tersebut semakin memperburuk keadaan.
“Alih-alih meminta maaf, korban justru diperlakukan tidak baik dengan kalimat merendahkan. Ini jelas melukai perasaan korban dan menambah tekanan psikologis setelah mengalami musibah,” tegasnya.
Pihak ASB, lanjut Alrein, akan mengawal kasus ini hingga tuntas dan mendorong kepolisian segera menindaklanjuti laporan yang sudah masuk.
“Kami ingin memastikan ada tanggung jawab hukum, agar kejadian serupa tidak terulang lagi dan masyarakat merasa aman. Keselamatan publik tidak boleh diabaikan,” pungkasnya.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
