Moroseneng Surabaya: Janji Pemkot Terbantah, Upeti Mengalir, Generasi Muda Terancam

Moroseneng Surabaya: Janji Pemkot Terbantah, Upeti Mengalir, Generasi Muda Terancam

Moroseneng Surabaya: Janji Pemkot Terbantah, Upeti Mengalir, Generasi Muda Terancam
peristiwaterkininews.com,

Surabaya, Lokalisasi legendaris Moroseneng di jantung Kota Surabaya, tepatnya di Jalan Sememi Jaya I dan II, seolah kebal terhadap ancaman penutupan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Ironisnya, bisnis esek-esek ini diduga kuat mendapat restu dan bekingan dari oknum aparat Pemkot sendiri.

Sumber terpercaya, SA, warga setempat, mengungkapkan bahwa eksistensi Moroseneng tak lepas dari praktik upeti bulanan yang mengalir deras ke berbagai tingkatan birokrasi, mulai dari pengurus kampung, kelurahan, hingga kecamatan. “Ini bukan rahasia lagi. Ada koordinator yang ditugaskan untuk mengumpulkan dan menyerahkan upeti agar Moroseneng tetap bisa beroperasi dan aman dari razia,” ujarnya, Jumat (3/10).

Menurut SA, setoran rutin ini berasal dari para pemilik wisma, yang wajib menyetor sejumlah uang agar bisnis mereka aman dari gangguan dan penutupan. Penelusuran Memorandum selama sepekan terakhir menguatkan dugaan bahwa Moroseneng memang tak tersentuh hukum. Tidak ada patroli Satpol PP, apalagi pengamanan seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2022-2023. Yang terlihat hanyalah lalu lalang pria hidung belang.

SA menduga, Moroseneng aman dari pengawasan berkat adanya kongkalikong antara pemilik wisma dengan oknum-oknum pemerintahan wilayah. Isu bekingan inilah yang menjadi kunci utama mengapa Moroseneng sulit untuk benar-benar ditutup. “Bagaimana mau tutup kalau mereka merasa aman karena ada yang membekingi? Uang upeti itu diserahkan ke pengurus kampung, kelurahan, dan kecamatan. Informasi ini akurat,” tegas SA.

Lebih lanjut, SA mengungkapkan kekecewaannya karena laporan yang telah berulang kali disampaikan ke kelurahan dan kecamatan tidak pernah direspons. “Karena itu, sekarang sudah tidak ada lagi pengawasan di tempat. Bahkan saya pun telah melaporkan prostitusi ini berkali-kali ke kelurahan dan kecamatan, tapi mereka tutup mata. Tidak ada respons sama sekali,” imbuhnya.

Kondisi ini menciptakan jurang yang lebar antara janji Pemkot untuk memberantas prostitusi dengan realitas yang terjadi di lapangan. SA berharap ada tindakan konkret dari Pemkot untuk menutup Moroseneng secara permanen, karena keberadaan lokalisasi ini dinilai sangat berbahaya bagi generasi muda.

“Harus ditutup secara permanen. Wali Kota Surabaya harus tegas. Karena dampaknya ke anak-anak muda setempat juga. Kadang mereka habis minum kerap mampir. Ini sangat meresahkan,” pungkas SA, dengan nada penuh harap.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *