Surabaya,-Anggota DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, melontarkan kecurigaan terhadap hasil operasi gabungan yang digelar Satpol PP Surabaya di kawasan eks lokalisasi Moroseneng pada Selasa (7/10) malam.
Operasi yang melibatkan TNI, Polri, dan perangkat wilayah ini dilaporkan tidak menemukan adanya praktik prostitusi.
Padahal saat politisi NasDem ini melakukan sidak pada Minggu (5/10), aktivitas terlarang tersebut ditemukan secara masif dan terang-terangan.
Imam pun mempertanyakan efektivitas patroli gabungan tersebut. Ia heran, bagaimana mungkin praktik prostitusi yang ia temukan marak, tiba-tiba hilang tak berjejak saat petugas satpol PP datang.
“Saya sidak sebelumnya, praktik prostitusi itu masif terjadi. Tapi saat satpol PP datang, laporannya malah nihil. Ini ada apa dengan patroli satpol PP? Kenapa hasilnya tidak ada? Jangan-jangan informasinya bocor,” ujar Imam, Rabu (8/10).
Kegiatan pengawasan oleh Satpol PP Surabaya pada Selasa malam (7/10) merupakan tindak lanjut atas aduan masyarakat. Yakni, kembali beroperasinya bisnis lendir di eks lokalisasi Moroseneng yang sudah ditutup sejak 2015.
Camat Benowo Denny Christupel Tupamahu mengklaim bahwa pengawasan telah rutin dilakukan. Meski faktanya, tak ditemukan lagi PAM anggota satpol PP di Jalan Sememi Jaya I dan Sememi Jaya II.
“Pada Selasa malam, Satpol PP melakukan pengawasan ketat di setiap rumah-rumah atas dugaan adanya kegiatan prostitusi yang meresahkan warga,” kata Denny.
Namun, Denny melaporkan bahwa petugas tidak menemukan aktivitas yang dicurigai. “Kami tidak menemukan aktivitas yang diduga itu. Dikarenakan pintu terkunci digembok dari luar serta lampu mati,” imbuhnya.
Penjelasan Camat Denny yang menyebut rumah-rumah dalam keadaan terkunci dan gelap inilah yang semakin memicu kecurigaan Imam Syafi’i.
Baginya, kondisi tersebut menguatkan dugaan adanya kebocoran informasi yang membuat para pelaku keburu tiarap sebelum petugas tiba.
Kendati demikian, Denny memastikan bahwa pengawasan dan patroli di eks lokalisasi Moroseneng akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Tidak hanya itu, pihaknya juga akan mengawasi potensi prostitusi di Klakah Rejo.
“Ini akan dilanjutkan dengan rapat lebih lanjut lagi bersama kami jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan bagaimana memecahkan permasalah itu lebih detail,” jelasnya.
“Tidak hanya di lokalisasi Moroseneng saja, tetapi eks lokalisasi Klakah Rejo akan kami lakukan pengawasan,” sambung Denny.
Dalam hal ini Sekjen ormas Pemuda Indonesia ( Gatra ) juga angkat bicara ” sudahlah gak usah bersandiwara, gak mungkin kalau gak ada permainan, disini pemerintah kota kurang serius saja dalam menangani bisnis lendir di Surabaya, tempat tinggal saya jauh saja sudah mencium aroma esek – esek, apalagi wilayah situ ” ungkapnya
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
