Surabaya,- Aksi begal kembali menghantui warga Surabaya. Kali ini, pasangan suami istri, Malik dan Ana, warga Arimbi, menjadi korban pembegalan bersenjata di kawasan Tambak Wedi, tepatnya dekat DAM air, pada Minggu dini hari (2/11/2025) sekitar pukul 02.00 WIB.
Menurut keterangan korban, enam pelaku dengan dua motor Beat Street hitam dan Vario hitam menghadang dari dua arah. Dengan senjata tajam jenis parang, mereka mengancam dan merampas sepeda motor korban tanpa perlawanan berarti.
“Kami baru pulang dari beli makan di Suramadu. Pas sampai dekat DAM Tambak Wedi, tiba-tiba dari depan dan belakang ada motor datang, langsung mengadang kami. Mereka bawa parang dan mengalungkan sajam tersebut,” ujar Malik, korban begal, dengan wajah pucat mengenang peristiwa itu.
Malik menuturkan, dirinya sempat mencoba melindungi istrinya, Ana, namun pelaku semakin agresif dan langsung merampas kendaraan mereka. Aksi itu berlangsung cepat di tengah kondisi jalan yang sepi dan minim penerangan.
“Saya sempat mau melawan, tapi mereka ngancam mau tebas. Akhirnya kami biarkan, yang penting nyawa selamat,” tambah Malik dengan nada gemetar.
Setelah kejadian, korban yang syok berlari mencari pertolongan di konter pulsa terdekat. Namun sayang, lokasi kejadian sudah kembali sepi dan pelaku raib tanpa jejak.
Tambak Wedi sendiri bukan kali pertama disebut sebagai wilayah rawan kejahatan jalanan. Warga setempat menyebut begal, balap liar, hingga tawuran remaja sudah sering terjadi, terutama di jam-jam dini hari.
“Sudah sering, Mas. Dulu juga ada yang dibegal di situ. Tapi habis ramai, nanti senyap lagi,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.
Ironisnya, ketika awak media dan warga mencoba menghubungi pihak Polsek Kenjeran, respons yang diterima nihil. Tak satu pun petugas menjawab panggilan. Kondisi ini memantik kekecewaan publik terhadap lambannya aparat dalam menangani laporan darurat.
Mengetahui hal itu, Humas SBPIJ (Pemuda Indonesia), Poetra Soemba, yang kebetulan sedang berada di lokasi, langsung turun tangan. Ia memutuskan mengantarkan korban sendiri ke Mako Polsek Kenjeran agar laporan bisa segera diproses dan mendapat perhatian serius.
“Kami sudah coba hubungi Polsek, tapi tidak ada respons. Ini tidak bisa dibiarkan. Korban harus dilindungi, bukan dibiarkan kebingungan di jalan. Maka kami dari SBPIJ (Pemuda Indonesia) langsung bantu bawa mereka ke kantor polisi,” tegas Poetra Soemba di lokasi.
Menurutnya, insiden ini menjadi sinyal keras bahwa sistem keamanan di Surabaya Timur lemah. Tidak ada jaminan keamanan malam hari, dan warga seolah dibiarkan menghadapi ancaman begal sendirian.
“Negara tidak boleh kalah oleh ketakutan rakyatnya sendiri. Aparat harus bergerak cepat, bukan hanya hadir setelah korban berjatuhan. Ini soal nyawa dan rasa aman,” ujarnya dengan nada tajam.
Poetra Sumba mendesak Polsek Kenjeran memperkuat patroli malam dan menambah titik penerangan di kawasan Tambak Wedi.
“Kalau aparat terus lamban, rakyat akan menjaga diri dengan caranya sendiri.Ketika hukum tidak lagi dipercaya, maka kekacauan tinggal menunggu waktu,” pungkas Poetra Soemba.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
