Surabaya,- Momentum Sumpah Pemuda menjadi ajang refleksi sekaligus konsolidasi gerakan mahasiswa di Jawa Timur, khususnya di Surabaya.
Aliansi BEM Surabaya menggelar rangkaian kegiatan pengukuhan kepengurusan, launching buku Reformasi Belum Usai Rapat Kerja hingga simposium Sumpah Pemuda dengan mengusung tema besar Dari Kota Pahlawan: Meneguhkan Persatuan Mahasiswa, Menggelorakan Semangat Sumpah Pemuda.
Kegiatan yang digelar di Universitas Muhammadiyah Surabaya ini dihadiri oleh perwakilan BEM dari berbagai daerah di Jatim, mulai dari Sidoarjo, Tulungagung, Lamongan, Sampang, hingga Pasuruan dan daerah lainnya.
Dalam sambutannya, Nasrawi selaku Koordinator Umum Aliansi BEM Surabaya, sekaligus Presiden Mahasiswa BEM Universitas Muhammadiyah Surabaya menegaskan bahwa aliansi ini bukan sekadar forum koordinasi, tetapi rumah bersama bagi gerakan mahasiswa lintas kampus di Jatim.
“Aliansi BEM Surabaya adalah wadah, rumah, sekaligus ruang berproses bagi mahasiswa lintas kampus. Surabaya telah menjadi episentrum gerakan mahasiswa di Jawa Timur, tempat lahirnya gagasan, kolaborasi, dan keberanian untuk bersuara. Apalagi Surabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan,” ujar Nasrawi, Minggu, 2 November 2025.
Selain memberikan sambutan, Nasrawi juga secara resmi mengukuhkan formatur kepengurusan Aliansi BEM Surabaya, yang menjadi langkah baru dalam memperkuat struktur dan arah gerakan mahasiswa di Jawa Timur.
“Kepengurusan ini bukan sekadar struktur administratif, tapi barisan nilai dan tanggung jawab moral mahasiswa Surabaya dalam mengawal arah demokrasi dan masa depan bangsa,” tegas Nasrawi.
Dalam kesempatan tersebut, Nasrawi juga membagikan poin-poin penting dari bukunya Reformasi: Belum Usai, yang menjadi refleksi perjalanan demokrasi Indonesia pasca 1998. Buku ini menyoroti tiga pokok utama.
Yakni, reformasi dan krisis substansi demokrasi, empat pilar kekuasaan dan krisis etika publik, lalu menyoal mahasiswa dan reformasi kedua.
“Rasionalitas sejati lahir dari ruang publik yang bebas dan kritis. Maka tugas kita, sebagai mahasiswa, bukan hanya menjaga warisan reformasi, tapi juga menyehatkan kembali nalar bangsa yang sedang sakit,” tutup Nasrawi.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Timur, Dr M Hadi Wawan Guntoro turut memberikan apresiasi terhadap semangat mahasiswa Surabaya yang tetap menjaga idealisme dan nilai kebangsaan.
“Semangat Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti di seremoni. Ia harus hidup dalam kolaborasi nyata antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat. Aliansi BEM Surabaya membuktikan bahwa energi muda Jawa Timur masih menyala dan progresif,” tegasnya.
Sementara itu, Dr Nur Mukarromah, Wakil Rektor III UM Surabaya, menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang dialektika dan kolaborasi.
“Gerakan mahasiswa harus tumbuh dari dialektika dan etika. Kampus hadir untuk memastikan ruang-ruang produktif seperti ini terus hidup,” ujarnya.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
