Pohon Asam, Warisan Leluhur Mulai Ditinggalkan

Pohon Asam, Warisan Leluhur Mulai Ditinggalkan

Pohon Asam, Warisan Leluhur Mulai Ditinggalkan
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,- Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menyoroti mulai hilangnya tradisi penanaman pohon asam di tepi jalan yang dulunya menjadi ciri khas lanskap kota-kota di Nusantara.

Menurutnya, tradisi tersebut sudah ada sejak era klasik atau zaman kerajaan dan memiliki nilai historis sekaligus ekologis yang tinggi.

“Pada masa kerajaan, pohon asam ditanam di jalan-jalan utama dan tempat tertentu sebagai tetenger atau penanda wilayah, juga untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Nur Setiawan, Sabtu (13/12/2025).

Ia menjelaskan, pemilihan pohon asam atau wit asem (dalam bahasa Jawa) oleh leluhur bukan dilakukan secara sembarangan. Pohon ini dikenal memiliki usia panjang, tahan terhadap berbagai kondisi cuaca, dan memberikan keteduhan yang luas.

“Leluhur kita sangat bijak memilih pohon asam karena selain teduh dan kuat, buahnya juga bermanfaat dan bisa dijadikan bahan masakan, obat tradisional, hingga minuman penyegar,” katanya.

Lebih lanjut, Nur menambahkan bahwa karakter geografis Nusantara yang memiliki dua musim yaitu penghujan dan kemarau untuk menjadi alasan logis mengapa pohon asam dulu begitu populer.

“Saat musim kemarau dengan suhu panas menyengat, pohon asam menjadi pelindung alami bagi para pelintas jalan. Begitu pula saat hujan ringan turun, orang bisa berteduh di bawahnya,” jelasnya.

Dari sisi struktur, akar pohon asam dikenal kuat namun tidak merusak bangunan di sekitarnya. Hal inilah yang menjadikannya sangat cocok ditanam di tepi jalan atau kawasan pemukiman.

“Akar pohon asam tumbuh dalam dan menyebar stabil, bukan merusak pondasi. Karena itu, pemerintah kolonial dulu pun melanjutkan tradisi penanaman pohon ini di banyak wilayah,” tutur Nur Setiawan.

Namun, ia menyayangkan bahwa dalam perkembangan zaman, pohon asam kini mulai jarang ditanam. Salah satu penyebabnya adalah munculnya stigma mistik yang melekat pada pohon tersebut.

“Banyak masyarakat menganggap pohon asam sebagai pohon angker atau tempat makhluk halus, padahal itu hanya mitos yang tidak berdasar,” tegasnya.

Menurut Nur, pandangan mistik semacam itu justru menutupi makna sejati dari kearifan lokal yang diwariskan leluhur. Ia menilai, menanam pohon asam merupakan bentuk penghormatan terhadap alam sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

“Kalau kita pahami nilai historis dan ekologisnya, pohon asam bukan sekadar tanaman, tapi simbol peradaban yang berpihak pada keberlanjutan hidup,” ujarnya.

Sebagai pegiat sejarah, Nur Setiawan berharap agar pemerintah daerah bersama masyarakat dapat menghidupkan kembali tradisi menanam pohon asam di kawasan publik.

“Ini bukan sekadar pelestarian lingkungan, tapi juga pelestarian nilai budaya. Dengan begitu, wit asem bisa kembali menjadi saksi hidup kebijaksanaan leluhur dalam menjaga harmoni antara manusia dan alam,” pungkasnya.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *