Surabaya,-Sosok Joko Jumput, tokoh legendaris yang kerap muncul dalam cerita ludruk klasik era 1960–1990-an, hingga kini masih menyimpan misteri. Keberadaannya yang kabur antara fakta sejarah dan kisah rakyat membuatnya menarik untuk dikaji lebih dalam.
Meski dikenal luas lewat kesenian rakyat Jawa Timur, tidak ada catatan sejarah sejaman yang benar-benar menjelaskan siapa sebenarnya Joko Jumput.
Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan mengatakan, dugaan kuat menyebutkan bahwa Joko Jumput merupakan bagian dari masyarakat keraton Surabaya pada masa lampau. Hal ini ditunjukkan dari lokasi pusaranya yang berada di kawasan Praban, wilayah yang dahulu menjadi bagian selatan Keraton Surabaya.
“Letak makamnya memberikan indikasi bahwa Joko Jumput bukan tokoh sembarangan, melainkan seseorang yang memiliki kedekatan dengan lingkungan bangsawan Surabaya,” ujar Nur Setiawan, pegiat sejarah dan budaya Surabaya, Kamis (18/12/2025).
Menurutnya, cerita tutur dan kisah ludruk, Joko Jumput digambarkan sebagai pemuda sakti mandraguna dengan dua senjata andalannya yaitu cemeti gembolo geni dan sebilah keris.
“Kedua pusaka tersebut disebut-sebut merupakan peninggalan ayahnya. Dengan senjata itu, ia dikisahkan mampu menaklukkan Joko Truno dan Pangeran Situbondo sosok dua bangsawan yang berambisi menguasai Surabaya sekaligus meminang putri keraton,” ujarnya.
Namun demikian, hingga kini belum ditemukan bukti otentik mengenai garis keturunan Joko Jumput. Tidak seperti keluarga Adipati Surabaya yang dimakamkan di Pesarean Botoputih dan Bibis yang keturunannya masih bisa dilacak dan identitas keluarga Joko Jumput tetap menjadi teka-teki.
“Ketiadaan jejak genealogis membuat tokoh ini berada di antara mitos dan realitas. Ia hidup lebih kuat dalam ingatan budaya daripada dalam catatan sejarah,” tambah Nur Setiawan.
Ia mengungkapkan, dalam kisah rakyat, Joko Jumput akhirnya berhasil mempersunting Dewi Purbawati, putri Adipati Surabaya bernama Jangrana. Cerita itu menggambarkan kemenangan kebaikan dan keberanian atas keserakahan.
“Walau belum bisa dibuktikan secara historis, kisah tersebut tetap menjadi bagian dari kekayaan folklore yang memperkaya identitas Surabaya,” ungkapnya
Lebih dari sekadar legenda, sosok Joko Jumput adalah simbol semangat Arek Suroboyo yang berani, sakti dalam tekad, dan setia pada kehormatan,” tuturnya.
“Berharap kisah-kisah semacam ini terus digali dan dijaga, bukan hanya sebagai hiburan rakyat, tapi juga sebagai sumber nilai dan inspirasi bagi generasi muda Surabaya,”pungkasnya.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
