Surabaya,- Dialek Suroboyoan atau yang dikenal sebagai bahasa arek menjadi salah satu kekayaan budaya khas Kota Pahlawan. Namun, di balik keberadaannya, muncul perdebatan panjang tentang asal-usul dan peranannya dalam kehidupan masyarakat Surabaya.
Tak sedikit yang mempertanyakan sejak kapan masyarakat menggunakan dialek ini sebagai bahasa pengantar sehari-hari.
Menurut Nur Setiawan, seorang Pegiat Sejarah Surabaya, dialek Suroboyoan merupakan subdialek dari bahasa Jawa yang memiliki banyak ragam dan variasi.
“Dialek Suroboyoan ini sebetulnya bahasa lisan yang tumbuh alami di tengah masyarakat. Ia tidak lahir dari tatanan resmi atau kebijakan kebahasaan, tapi dari keseharian warga, terutama di lingkungan kampung-kampung Surabaya,” ujar Nur Setiawan, Selasa (23/12/2025).
Lebih lanjut, Nur menjelaskan bahwa dialek Suroboyoan tidak sama dengan dialek Jawa lainnya seperti yang digunakan di wilayah Solo atau Yogyakarta.
“Bahasa Suroboyoan punya ciri khas tersendiri yaitu tegas, lantang, dan tanpa basa-basi. Ini mencerminkan karakter masyarakat pesisir yang keras tapi jujur. Sejarah Surabaya sebagai kota pelabuhan dan perdagangan membuat bahasa ini menyerap banyak pengaruh luar,” ungkapnya.
Ia menduga bahwa kerasnya pelafalan bahasa Suroboyoan bermula dari interaksi antara masyarakat lokal dan para pendatang dari luar Jawa.
“Bisa jadi para perantau dari Madura, Kalimantan, atau Sulawesi mencoba berkomunikasi dengan bahasa Jawa seadanya. Karena pelafalan mereka berbeda, muncullah variasi bahasa yang terdengar kasar, tapi justru itulah yang kemudian menjadi khas Surabaya,” kata Nur.
Selain menjadi alat komunikasi, dialek Suroboyoan juga berkembang sebagai medium seni. Nur mencontohkan kesenian ludruk yang lahir dan berkembang di wilayah Surabaya Raya.
“Ludruk itu tidak bisa lepas dari bahasa Suroboyoan. Melalui dialog-dialog lucu dan spontan, muncul kata-kata baru yang menjadi bagian dari kebudayaan kita. Jadi, bahasa ini bukan hanya alat bicara, tapi juga ekspresi identitas,” tambahnya.
Meski sering dianggap kasar oleh sebagian orang luar, Nur menegaskan bahwa dialek Suroboyoan tidak mencerminkan sikap tidak sopan.
“Arek Suroboyo itu kalau ngomong keras bukan karena marah, tapi karena semangat dan lugas. Mereka terbiasa bicara apa adanya, tanpa banyak basa-basi. Itulah karakter yang justru membuat Surabaya dikenal sebagai kota dengan jiwa egaliter dan terbuka,” jelasnya.
Menutup wawancara, Nur Setiawan berpesan agar masyarakat Surabaya tetap bangga menggunakan bahasa daerahnya sendiri.
“Bahasa menunjukkan bangsa, dan dialek Suroboyoan menunjukkan jiwa Arek Suroboyo yang berani, tegas, dan tidak berpura-pura. Selama bahasa ini terus digunakan dan dilestarikan, maka identitas Surabaya akan tetap hidup di tengah perubahan zaman,” pungkasnya.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
