Terungkap! Nama Asli Jembatan Petekan adalah Ferwerda Brug

Terungkap! Nama Asli Jembatan Petekan adalah Ferwerda Brug

Terungkap! Nama Asli Jembatan Petekan adalah Ferwerda Brug
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,- Di tengah gemerlapnya pembangunan Kota Surabaya yang terus berkembang pesat, masih tersimpan kisah menarik dari masa kolonial yang jarang diketahui masyarakat.

Salah satunya adalah Jembatan Petekan, sebuah infrastruktur bersejarah yang telah berdiri sejak tahun 1939 dan menjadi bagian penting dari jalur penghubung antara kawasan Kalimas Barat dan Kalimas Timur.

Pegiat Sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menjelaskan bahwa pada masa Hindia Belanda, jembatan ini dikenal dengan nama Ferwerda Brug.

“Jembatan ini merupakan salah satu karya teknik yang cukup maju di zamannya, karena memiliki sistem buka-tutup yang memungkinkan kapal melintas di Sungai Kalimas bagian selatan,” ujar Nur Setiawan, Minggu (28/12/2025).

Menurutnya, fungsi utama Ferwerda Brug saat itu adalah mendukung kelancaran transportasi air yang menjadi urat nadi perdagangan di Kota Surabaya.

“Sungai Kalimas dulu menjadi jalur utama distribusi barang. Jadi, jembatan ini dirancang agar tidak menghalangi lalu lintas kapal. Ketika kapal hendak lewat, jembatan bisa diangkat dengan sistem mekanis,” tambahnya.

Nama “Petekan” sendiri muncul dari bahasa Jawa “petek”, yang berarti menekan atau memencet. Masyarakat Surabaya kala itu menyebutnya Jembatan Petekan karena cara pengoperasiannya dilakukan dengan menekan tombol pengangkat jembatan.

“Istilah Petekan lahir dari kebiasaan warga yang melihat operator menekan tombol untuk membuka jembatan. Dari situlah muncul sebutan yang masih dikenal hingga sekarang,” jelas Nur Setiawan.

Jembatan yang kini menjadi ikon di kawasan Kalimas itu dibangun oleh NV Machinefabriek Bratt, perusahaan teknik asal Belanda yang berlokasi di Ngagel. Setelah Indonesia merdeka dan diberlakukannya Undang-Undang Nasionalisasi pada era Presiden Soekarno, perusahaan tersebut berubah nama menjadi PT Barata Indonesia, yang masih eksis hingga kini sebagai produsen alat berat dan permesinan nasional.

Meski kini fungsi buka-tutup jembatan sudah tidak lagi digunakan, keberadaan Jembatan Petekan menjadi simbol penting sejarah perkembangan teknologi dan urbanisasi di Surabaya.

“Sayangnya, tidak banyak warga yang tahu bahwa jembatan ini dulu adalah salah satu bukti kemajuan teknik sipil di masa kolonial. Padahal, dari sinilah kita bisa belajar tentang sejarah kota,” tutur Nur Setiawan.

Ia menambahkan, jembatan ini bukan sekadar bangunan tua, tetapi bukti nyata bahwa Surabaya sudah memiliki infrastruktur modern sejak masa penjajahan.

“Ini warisan sejarah yang seharusnya dirawat dan diperkenalkan kepada generasi muda,” pungkasnya.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Comment

  • Dari pelajaran sejarah yang telah diajarkan semasa waktu SMA, guru saya pernah berkata bahwa saat kolonial belanda menduduki nusantara, dari situ presiden soekarno sudah membenci masa pendudukan.
    Sejak saat itu, semua bangunan infrastruktur; bangunan gedung hingga lainnya presiden soekarno hingga soeharno tidak mau merevitalisasi peninggalan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *