Surabaya,-Balok kuning bengkok terjebak dalam ego yang sangat tinggi sehingga Ia buta tentang tanggung jawab sebagai ketua pos ronda, kadang pula binggung meletakan muka kepada ketua dusun maupun ketua desa. Apapun yang Ia kerjakan ingin terlihat sempurna dihadapan para ketuanya, sering kali juga mengobarkan anggotanya sebagai tumbal kinerja.
Baginya, pengakuan lebih penting daripada keadilan. Alih-alih bijaksana, ia bertindak seperti orang yang mencuci panci kukusan dengan abu agar terlihat bersih di luar, namun meninggalkan goresan dan kerusakan yang tak kasat mata. Balok Kuning Bengkok merasa telah melakukan yang terbaik, tanpa pernah benar-benar memahami dampak dari caranya memimpin.
Waktu berjalan, dan perlahan anggotanya mulai kehilangan rasa percaya. Mereka bekerja tanpa hati, sekadar menggugurkan kewajiban. Tidak ada lagi kebersamaan, hanya perintah dan tekanan yang terus berulang. Regu yang dulu penuh harapan kini terasa pedas asam manis mirip mangga campur gula aren.
Suatu ketika, sebuah tugas penting kembali datang. Balok Kuning Bengkok dengan percaya diri mengambil alih semuanya. Ia membagi tugas tanpa diskusi, menetapkan target tanpa pertimbangan dan menuntut hasil tanpa empati. Anggotanya hanya bisa saling pandang, menyadari bahwa keadaan tidak akan berubah.
Namun, kali ini berbeda! Beberapa anggota mulai berani bersuara tetapi Balok Kuning Bengkok menanggapinya dengan dingin, bahkan menganggap mereka sebagai penghambat. Ia semakin yakin bahwa hanya dirinya yang benar.
Koordinasi yang rapuh runtuh seketika, kepemimpinan bukan tentang terlihat paling bersih, melainkan tentang berjalan bersama, bahkan saat harus menghadapi kotor dan sulit. Sebab dalam setiap langkah yang berat, ada tanggung jawab yang tak bisa dipikul sendiri, ada suara-suara kecil yang perlu didengar, dan ada kepercayaan yang harus dijaga.
Bersambung
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
