Duduklah dengan tenang… pejamkan sejenak matamu… dan dengarkanlah baik-baik apa yang akan terungkap sekarang… karena ini adalah sisi paling gelap, paling tersembunyi, dan paling keliru dipahami dari segala pengembangan diri.
Kita mulai dari satu kata yang selalu kamu dengar, selalu kamu nilai, dan selalu kamu salah artikan: EGO.
Menurut pandangan masyarakat umum… pandangan yang sudah kamu telan mentah-mentah sejak kecil… Ego itu buruk.
Ego disamakan dengan iblis, disamakan dengan setan, disamakan dengan segala yang jahat dan rendah.
Sebaliknya…
segala sesuatu yang dianggap baik, indah, dan mulia… kamu sebut sebagai KARUNIA.
Lihatlah bagaimana caramu menilai:
Kaya, sukses, punya banyak harta… disebut Karunia.
Miskin, susah, kekurangan… disebut Ego, disebut sifat buruk.
Kebiasaan baik, rajin beribadah, dermawan, suka memberi… disebut Karunia, disebut mulia.
Kebiasaan buruk, serakah, nafsu, ingin memiliki… disebut Ego, disebut jahat.
Begitukah yang kamu percayai selama ini?
Maka dengarkanlah… apa yang akan kukatakan ini mungkin akan mengguncang seluruh isi kepalamu… mungkin membuatmu bingung sejenak… tapi ini adalah kebenaran mutlak yang akan membebaskanmu selamanya:
IBLIS DAN MALAIKAT ITU SATU. KARUNIA DAN EGO ITU SATU.
Dualitas itu hanyalah ilusi buatan pikiranmu. Baik dan buruk itu hanyalah dua wajah dari satu hal yang sama. Dan hal yang satu itu… itulah yang kusebut EGO… atau DIRI PALSU.
Lalu… apa sebenarnya Ego itu?
Ego itu bukan sekadar sifat buruk. Ego itu bukan sekadar jahat.
Ego itu adalah SEJARAH.
Sejarah masa lalumu… segala ingatan, segala pengalaman, segala nilai, segala penilaian yang menumpuk di dalam dirimu.
Ego itu adalah kekuatan yang berusaha mengendalikan hidupmu… yang selalu berusaha memperluas dirinya ke masa depan… yang selalu ingin menjadi sesuatu, ingin memiliki sesuatu, ingin menjadi lebih besar, lebih hebat, lebih dari apa adanya.
Ego mencakup segalanya… baik kebiasaan, harta, sifat, karakter… apa saja yang kamu identifikasi sebagai “DIRIMU”… itulah Ego.
Kebanyakan manusia hanya memahami separuh saja. Kamu hanya melihat sisi yang kamu anggap buruk sebagai ego, dan sisi yang kamu anggap baik kamu puja-puja sebagai sesuatu yang suci. Padahal… kekayaan dan kemiskinan… kebaikan dan keburukan… ibadah dan nafsu… semuanya hanyalah KONDISI. Dan segala kondisi yang kamu anggap sebagai dirimu… itu semua adalah Ego.
Ego itu lahir dari KETIDAKSADARAN.
Kamu tidak sadar siapa dirimu yang sejati… maka kamu menempelkan dirimu pada apa saja yang ada di sekitarmu.
Kamu bilang: “Aku miskin… itulah aku.”
Kamu bilang: “Aku kaya… itulah aku.”
Kamu bilang: “Aku baik… aku mulia… aku saleh… itulah aku.”
Itu semua palsu. Semuanya sama-sama palsu.
Lalu lihatlah gerak hidupmu… bukankah kamu selalu bergerak dari satu ego ke ego yang lain?
Kamu merasa miskin, kamu merasa rendah, kamu menderita… lalu kamu berusaha mati-matian berubah menjadi ego yang kaya, menjadi ego yang sukses, menjadi ego yang mulia.
Tapi… Kawanku… apakah kamu sadar?
Baik ego miskin maupun ego kaya… baik ego jahat maupun ego baik… keduanya tetaplah EGO.
Keduanya sama-sama palsu. Tidak ada bedanya. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih rendah.
Mengapa kamu sibuk berpindah dari satu kepalsuan ke kepalsuan lain? Mengapa kamu bangga saat menjadi ego yang dianggap “baik”, dan malu saat menjadi ego yang dianggap “buruk”? Padahal akarnya sama saja.
Dan inilah hukum yang tak pernah berubah:
Di mana ada EGO… di situ pasti ada DERITA.
Entah itu ego yang merasa kaya…
Entah itu ego yang merasa miskin…
Entah itu ego yang merasa mulia…
Entah itu ego yang merasa hina…
Semuanya membawa penderitaan. Karena yang palsu akan selalu rapuh, selalu takut hilang, selalu ingin lebih, selalu tidak puas. Yang palsu takkan pernah bisa memberi kedamaian.
Maka ingatlah ini:
Selama kamu masih menganggap sebagian dirimu “buruk” dan sebagian lagi “baik”… selama kamu masih memuji sisi ini dan mencela sisi itu… selama kamu masih berpindah dari satu identitas ke identitas lain… kamu masih terperangkap dalam ilusi ego.
Keduanya satu. Keduanya sama. Dan saat kamu sadar akan hal ini… saat kamu berhenti menilai, berhenti membedakan, berhenti melekatkan diri pada apa pun… di situlah ego perlahan meleleh… dan kamu pun bangun menjadi DIRI YANG SEJATI
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
