Kasus dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Sidoarjo terus bertambah. Hingga Rabu (2/9/2026) pagi, tercatat 512 orang mengalami gejala yang tersebar di 19 lembaga pendidikan.
Seluruh korban diketahui mengonsumsi makanan yang diproduksi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan, korban tidak hanya berasal dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam. Kasus serupa juga dilaporkan dialami siswa dari sejumlah TK, SD, SMP hingga SMA swasta yang menerima pasokan makanan dari SPPG Kalitengah.
Berdasarkan data dari delapan rumah sakit, sebanyak 500 pasien telah mendapatkan penanganan medis. Dari jumlah tersebut, 320 pasien dinyatakan membaik dan diperbolehkan pulang.
Sementara itu, 65 pasien masih menjalani rawat inap dan 115 pasien lainnya masih berada dalam observasi tim medis.
Terdapat selisih 12 orang dari total 512 laporan tersebut. Data mereka masih diverifikasi untuk memastikan apakah menjalani perawatan secara mandiri atau belum tercatat dalam rekapitulasi rumah sakit.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kejadian tersebut. Pemprov Jatim juga membantah informasi yang beredar di media sosial mengenai adanya santri yang meninggal akibat dugaan keracunan.
Makanan yang diproduksi SPPG Kalitengah didistribusikan pada Senin sekitar pukul 10.00 WIB. Paket tersebut kemudian dibagikan kepada siswa sekitar pukul 12.00 WIB.
Menu MBG yang dikonsumsi terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis baby corn, tempe bumbu Bali, dan buah apel.
Sekitar pukul 16.00 WIB, sejumlah penerima mulai mengalami berbagai gejala, mulai dari pusing, mual, muntah, diare hingga sesak napas. Keluhan kemudian dilaporkan terjadi secara lebih luas.
Sebagai langkah penanganan, operasional SPPG Kalitengah dihentikan sementara untuk menjalani proses sterilisasi.
Pemkab Sidoarjo bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait juga melakukan evaluasi terhadap perizinan dan kelayakan lingkungan kerja penyedia makanan.
Tim khusus telah mengambil sampel makanan dan memeriksa kondisi sanitasi dapur. Namun, penyebab pasti kejadian tersebut masih belum diketahui.
Pemeriksaan masih dilakukan untuk memastikan apakah dugaan keracunan disebabkan faktor biologis maupun kimiawi. Hasil uji laboratorium akan menjadi dasar untuk mengetahui penyebab kejadian.
Pemerintah memastikan seluruh biaya perawatan korban ditanggung sepenuhnya sesuai dengan kondisi medis masing-masing.
Pemprov Jatim dan Pemkab Sidoarjo juga menegaskan akan memberikan sanksi tegas apabila hasil investigasi membuktikan adanya kelalaian atau pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) oleh pihak penyedia makanan dalam program MBG.
