Surabaya,— Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya dari Fraksi PDI Perjuangan, Abdul Malik, turun langsung ke lapangan setelah menerima laporan adanya anak putus sekolah di wilayah Dukuh Bulak Banteng Timur 5/6. Kunjungan tersebut merupakan bentuk respons cepat terhadap persoalan pendidikan yang masih terjadi di tengah masyarakat, Jumat (10/04/2026).
Dari empat bersaudara, anak bernama M. Jaelani terpaksa berhenti sekolah karena jarak tempuh yang cukup jauh. Sebelumnya, ia bersekolah di Taswirul Afkar, kawasan Semampir. Jika masih melanjutkan pendidikan, saat ini ia diperkirakan telah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Selain Jaelani, adiknya yang bernama Syafiqi atau yang akrab disapa Qiqi juga belum mengenyam pendidikan di tingkat Sekolah Dasar (SD). Kondisi tersebut disebabkan oleh keterbatasan ekonomi keluarga, sehingga keduanya belum memperoleh akses pendidikan yang layak.
Tidak hanya itu, keluarga tersebut juga memiliki anak yang masih berusia balita. Situasi ini semakin memprihatinkan setelah sang ayah meninggal dunia. Keempat bersaudara tersebut kini hidup bersama ibunya yang berjuang sendiri dengan berjualan jajanan rentengan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Menanggapi kondisi tersebut, Abdul Malik menyatakan keprihatinannya dan menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak dasar setiap anak yang harus dipenuhi.
“Kami tidak ingin ada anak di Surabaya yang putus sekolah hanya karena alasan ekonomi maupun jarak. Ini menjadi perhatian serius bagi kami,” ujarnya.
Malik menambahkan bahwa pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memastikan Jaelani dan Qiqi dapat kembali bersekolah.
“Kami akan mendorong agar keduanya segera mendapatkan akses pendidikan, baik melalui sekolah terdekat maupun program bantuan dari pemerintah,” kata Malik.
Selain itu, Abdul Malik juga mendorong Dinas Sosial untuk memberikan bantuan modal usaha kepada ibu keempat anak tersebut.
Menurutnya, dukungan ekonomi menjadi kunci agar keluarga dapat lebih mandiri dan anak-anak dapat kembali fokus pada pendidikan.
“Kami berharap ada intervensi nyata, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi, agar masa depan anak-anak ini tetap terjamin,” pungkasnya.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
