Balai Pemuda: Dari Tempat Dugem Kolonial Menjadi Simbol Perlawanan Arek Suroboyo

Balai Pemuda: Dari Tempat Dugem Kolonial Menjadi Simbol Perlawanan Arek Suroboyo

Balai Pemuda: Dari Tempat Dugem Kolonial Menjadi Simbol Perlawanan Arek Suroboyo
peristiwaterkininews.com,

Surabaya – Di tengah megahnya gedung-gedung modern dan sorotan lampu kota, berdiri satu bangunan tua yang seolah menatap masa lalu dengan tenang, Balai Pemuda. Bangunan peninggalan era kolonial Belanda ini bukan hanya ikon sejarah arsitektur, tetapi juga saksi bisu dari pergulatan bangsa menuju kemerdekaan.

Menurut pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, gedung yang dulunya bernama Simpangsche Societeit itu menyimpan perjalanan panjang yang mencerminkan perubahan zaman dari tempat eksklusif kaum penjajah menjadi simbol perjuangan rakyat.

“Balai Pemuda itu ibarat cermin bagi perjalanan bangsa ini. Dulu tempat ini hanya bisa dimasuki oleh kulit putih, tapi kemudian menjadi rumah bagi para pemuda republik. Dari tempat diskriminasi menjadi tempat lahirnya tekad kemerdekaan,” tutur Nur Setiawan,Senin (24/11/2025).

Dibangun pada tahun 1907, Simpangsche Societeit awalnya difungsikan sebagai pusat hiburan bagi warga Eropa di Surabaya. Di dalamnya terdapat restoran, bar, tempat musik, hingga galeri seni.

“Kalau sekarang mungkin kita sebut tempat dugem, tapi dulu hanya untuk kaum Belanda,” jelas Nur sambil tersenyum.

Namun, di balik kemewahannya, tempat itu menyimpan luka sejarah. Pada akhir Oktober 1945, sekelompok orang Belanda yang baru keluar dari kamp interniran Jepang mencoba merebut kembali gedung tersebut, yang telah dijadikan markas Pemuda Republik Indonesia (PRI).

Pertikaian pun pecah,amarah rakyat yang masih hangat oleh semangat kemerdekaan memuncak, menumpahkan darah di tempat yang dulu dikenal dengan tulisan kejam: “Anjing dan pribumi dilarang masuk.”

“Itu bukan sekadar pembunuhan, tapi simbol perlawanan terhadap penghinaan. Bayangkan, dulu orang pribumi bahkan tak boleh menginjakkan kaki di sini, lalu di tahun 1945 mereka berdiri tegak di tempat yang sama sebagai tuan di tanah sendiri,” ungkap Nur penuh makna.

Pasca kemerdekaan, gedung itu kemudian dinamai Balai Pemuda dengan sebuah penegasan bahwa tempat yang dulu menjadi lambang kesenjangan sosial kini menjadi pusat semangat kebangsaan. Kini, Balai Pemuda berdiri sebagai ruang ekspresi budaya, seni, dan kreativitas anak muda Surabaya.

“Setiap dinding Balai Pemuda menyimpan gema perjuangan. Anak muda zaman sekarang perlu tahu bahwa tempat ini bukan sekadar gedung bersejarah, tapi simbol bahwa perubahan selalu dimulai dari keberanian,” pesan Nur Setiawan.

Dalam penutupnya, Nur Setiawan memberi refleksi yang menyentuh

“Sejarah bukan hanya deretan peristiwa, tapi napas dari mereka yang pernah berjuang. Balai Pemuda mengingatkan kita bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian orang biasa yang menolak untuk ditindas. Tugas generasi muda hari ini bukan sekadar mengenang, tapi melanjutkan semangat itu dalam bentuk yang relevan bagi zaman,” pungkasnya.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *