Haji Djamhari: Antara Mitos dan Sejarah Penemuan Kretek ‎

Haji Djamhari: Antara Mitos dan Sejarah Penemuan Kretek ‎

Haji Djamhari: Antara Mitos dan Sejarah Penemuan Kretek  ‎
peristiwaterkininews.com,

KUDUS, – Dalam lembaran historiografi populer tanah air, nama Haji Djamhari telah lama dipahat sebagai sosok legendaris di balik penemuan rokok kretek. Meski demikian, eksistensinya kerap memicu perdebatan di kalangan sejarawan; apakah ia benar-benar tokoh nyata atau sekadar figur mitologi yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat lokal.

‎Selama bertahun-tahun, sosok Djamhari sering dipandang sebagai legenda yang minim dasar historis kuat. Namun, cerita yang berkembang di masyarakat Kudus menempatkan kehadirannya pada pengujung abad ke-19 sebagai titik mula revolusi industri tembakau di nusantara.

‎‎Kisah penemuan ini bermula dari penderitaan fisik yang dialami Djamhari. Berdasarkan catatan Amen Budiman dan Onghokham dalam buku Hikayat Kretek, pria asal Kudus tersebut dikisahkan mengidap penyakit sesak napas akut yang sudah menahun.

‎Setiap kali serangan datang, penderitaan yang dirasakannya begitu berat hingga ia terus mencari cara untuk sembuh.

‎Upaya penyembuhan awalnya dilakukan dengan cara luar. Djamhari mencoba mengoleskan minyak cengkih pada bagian dada dan punggungnya. Meski memberikan sedikit kelegaan, metode ini belum mampu meredakan rasa sakitnya secara tuntas.

‎Tak menyerah pada keadaan, ia kemudian bereksperimen dengan mengunyah butiran cengkih secara langsung. Hasilnya ternyata jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan sebelumnya.

‎‎Dari pengalaman empiris inilah, muncul gagasan inovatif untuk memasukkan unsur cengkih ke dalam aktivitas merokoknya.

‎Metode yang dilakukan Djamhari saat itu tergolong sangat sederhana namun revolusioner. Ia merajang cengkih hingga halus, lalu mencampurkannya dengan tembakau.

‎“Dengan cara ini dia bisa mengisap asapnya sampai masuk ke dalam paru-parunya,”

‎Inovasi yang lahir dari kebutuhan medis pribadi ini kemudian dikenal luas sebagai “rokok cengkih”, yang karena bunyi gemertak saat dibakar akhirnya lebih populer dengan sebutan kretek.

‎‎Hingga kini, meski perdebatan historis mengenai sosoknya tetap ada, narasi Haji Djamhari tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan industri kota Kudus.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Irvan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *