Khofifah Harap Standar Kompetensi Siswa Terukur Jelas

Khofifah Harap Standar Kompetensi Siswa Terukur Jelas

Khofifah Harap Standar Kompetensi Siswa Terukur Jelas
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,- Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa didampingi Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai memantau langsung pelaksanaan perdana Tes Kompetensi Akademik (TKA) di SMA Negeri 6 Surabaya, Senin (3/11).

TKA tahun ini menandai sejarah baru di Jawa Timur. Gubernur Khofifah menjelaskan bahwa ini adalah pertama kalinya TKA digunakan sebagai alat ukur standar kompetensi bagi seluruh siswa pendidikan menengah di Jatim.

“Ini TKA pertama, bukan hanya hari pertama, tapi pertama kali digunakan untuk mengukur kompetensi siswa SMA, SMK, Madrasah Aliyah, dan SMA Luar Biasa,” tegas Khofifah.

Secara total, ada sebanyak 390.186 siswa, termasuk peserta Paket C yang mengikuti TKA ini secara serentak di 4.323 unit sekolah di seluruh Jatum. Ujian yang mencakup mata pelajaran wajib dan pilihan ini dilaksanakan serentak pada waktu yang sama.

Khofifah menekankan bahwa TKA tidak menentukan kelulusan siswa. Fungsinya adalah untuk menstandardisasi kompetensi akademik siswa, yang selanjutnya akan menjadi pertimbangan utama untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN), khususnya melalui jalur prestasi tanpa tes.

“Biasanya kan ada yang masuk perguruan tinggi dengan tes dan tanpa tes. Nah, untuk jalur prestasi ini sangat menentukan. Ini menjadi indikator penting bagi perguruan tinggi untuk menilai kemampuan siswa,” jelasnya.

>Menariknya, Khofifah juga mengungkapkan bahwa selama enam tahun terakhir (2020–2025), Jatim selalu mencatatkan diri sebagai provinsi dengan jumlah siswa tertinggi yang diterima di PTN, baik melalui jalur tes maupun jalur prestasi.

“Kita berharap TKA ini bisa mengukur standar kompetensi mereka. Ini regulasi baru dari Kemendiknas yang mulai diterapkan tahun ajaran ini untuk kelas 12,” terang Khofifah.

Sementara itu, Kadindik Jatim Aries Agung Paewai menyampaikan bahwa TKA diharapkan dapat memberikan gambaran kemampuan siswa yang lebih objektif.

Selama ini, penilaian siswa dinilai terlalu bergantung pada nilai rapor yang sering kali tidak mencerminkan kompetensi siswa sebenarnya.

“Pak Menteri pernah bilang, nilai rapor itu kadang banyak sedekah nilai. Dengan TKA, kita harap nilainya lebih real dan sesuai kemampuan siswa,” ujar Aries.

Selain itu, hasil TKA juga akan dimanfaatkan untuk memetakan potensi belajar siswa di berbagai daerah dan menjadi bahan evaluasi penting untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Di sisi lain, Aries menepis anggapan bahwa pelaksanaan TKA dilakukan secara mendadak. Ia menegaskan bahwa seluruh proses telah melalui tahap simulasi dan gladi bersih di sejumlah sekolah.

“Kalau ada yang bilang mendadak, saya rasa tidak. Sudah direncanakan jauh sebelumnya dan anak-anak sangat antusias menyambut TKA ini,” pungkasnya.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Alf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *