Surabaaya,- Di tengah padatnya kawasan pusat Kota Surabaya, Kampung Kranggan tetap berdiri sebagai saksi sejarah panjang perjalanan kota ini. Meski dikelilingi gedung-gedung modern dan arus pembangunan yang pesat, kampung ini menyimpan jejak masa lalu yang kuat.
Berdasarkan peta lama Surabaya pada era kolonial abad ke-19 hingga awal abad ke-20, Kampung Kranggan sudah tercatat sebagai salah satu kawasan permukiman kuno yang eksis di masa itu.
Pegiat sejarah Surabaya, Nur Setiawan, menyebut bahwa keberadaan Kampung Kranggan bahkan diperkirakan sudah ada jauh sebelum abad ke-19.
“Dulu, kawasan ini merupakan bagian dari sisi selatan Keraton Surabaya. Posisi strategisnya menunjukkan bahwa Kranggan punya hubungan erat dengan struktur pemerintahan dan kehidupan bangsawan pada masa itu,” jelas Nur, Sabtu (20/12/2025).
Lebih lanjut, Nur menuturkan bahwa asal-usul nama Kranggan memiliki dua versi yang berkembang di kalangan masyarakat. Versi pertama menyebut kata tersebut berasal dari kata rangga, yang berarti pangeran atau putra bangsawan.
“Dari makna itu bisa diasumsikan bahwa dulu Kranggan menjadi tempat para pangeran menimba ilmu atau berlatih, semacam asrama bangsawan muda,” terangnya.
Namun, ada pula versi lain yang menyebut bahwa Kranggan dulunya merupakan tempat tinggal para pengrajin keris dan pembuat wadahnya.
“Kedua versi itu sama-sama menarik, karena keduanya menegaskan bahwa Kranggan punya nilai budaya tinggi, baik dari sisi aristokrat maupun dari sisi kerajinan tradisional,” tambah Nur.
Ia menyebut, meskipun belum ada catatan tertulis yang menjelaskan secara rinci, kedudukan Kranggan sebagai bagian dari kawasan keraton sudah tidak diragukan lagi secara historis maupun toponimi.
Beberapa peninggalan masa lalu di Kampung Kranggan hingga kini masih bisa dijumpai. Salah satunya adalah sumur kuno berukuran besar yang terletak di sudut kampung dan dipercaya sebagai sumber air utama sejak masa lampau. Selain itu, masih banyak rumah-rumah bergaya kolonial yang berdiri kokoh, menjadi bukti bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian penting dari dinamika kota lama Surabaya.
“Di sini juga ada makam Buyut Kuning, tokoh yang dipercaya sebagai leluhur dan pelindung kampung. Makam itu menjadi titik ziarah dan simbol spiritual masyarakat Kranggan hingga sekarang,” tutur Nur.
Ia menegaskan bahwa keberadaan Kampung Kranggan merupakan pengingat penting bahwa sejarah dan budaya lokal perlu dijaga di tengah derasnya arus pembangunan.
“Surabaya boleh modern, tapi akar sejarahnya jangan sampai hilang,” pungkasnya.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
