SURABAYA – Persoalan sampah di Kota Pahlawan kembali memanas. Kali ini, titik masalah bukan lagi berada di pemukiman warga, melainkan bergeser ke Pasar Keputran Utara. Berdasarkan pantauan pada Sabtu (11/04/2026), gunungan sampah yang tak kunjung terangkut mulai melumpuhkan kenyamanan aktivitas jual beli di pasar legendaris tersebut.
Kondisi ini memicu gelombang protes dari para pedagang yang merasa hak mereka atas lingkungan yang bersih telah terabaikan, meski telah memenuhi kewajiban iuran yang tergolong mahal.
Pedagang Merasa Dirugikan: “Bayar Rp50 Ribu Tapi Bau”
Asmani, salah satu pedagang di Pasar Keputran Utara, tidak dapat menyembunyikan kekesalannya. Ia membeberkan bahwa setiap hari pedagang ditarik iuran sampah sebesar Rp50.000, jumlah yang dinilai fantastis untuk pelayanan yang minim.
“Setiap hari saya bayar iuran sampah Rp50.000, itu di luar iuran stan. Tapi kenyataannya, sampah tetap menumpuk sampai baunya menyengat sekali. Ini sangat tidak efektif,” ujar Asmani dengan nada kecewa, Sabtu (11/04).
Dampak dari penumpukan ini sangat terasa di lapangan:
Drainase Terhambat: Sampah meluber hingga ke jalan operasional, mengganggu mobilitas logistik pasar.
Polusi Udara: Aroma busuk menyengat meresahkan pedagang dan pengunjung, terutama saat cuaca terik.
Ancaman Ekonomi: Pedagang khawatir pelanggan akan beralih ke pasar lain yang lebih higienis.
Menanggapi keluhan pedagang terkait transparansi iuran dan pembersihan lahan, pihak manajemen Pasar Keputran akhirnya memberikan pernyataan resmi. Namun, alih-alih memberikan solusi teknis, manajemen terkesan melempar tanggung jawab tersebut ke instansi lain.
Saat dikonfirmasi oleh awak media, salah satu perwakilan manajemen menegaskan bahwa urusan pengangkutan sampah dari area pasar menuju pembuangan akhir bukanlah wewenang mereka.
“Bahwasanya terkait penumpukan sampah itu bukan tugas kami, Pak. Melainkan itu wewenang dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH),” dalih salah satu pihak manajemen pasar.
Saling lempar tanggung jawab antara pengelola pasar dan dinas terkait ini disayangkan oleh banyak pihak. Para pedagang menuntut adanya koordinasi yang jelas, mengingat uang iuran terus ditarik setiap harinya. Hingga berita ini diturunkan, tumpukan sampah masih menghiasi sudut-sudut Pasar Keputran Utara, menunggu tindakan nyata dari otoritas terkait sebelum dampak kesehatan dan ekonomi semakin meluas
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
