Sie Kong Lian, Pemilik Rumah Kos yang Jadi Saksi Lahirnya Ikrar Sumpah Pemuda

Sie Kong Lian, Pemilik Rumah Kos yang Jadi Saksi Lahirnya Ikrar Sumpah Pemuda

Sie Kong Lian, Pemilik Rumah Kos yang Jadi Saksi Lahirnya Ikrar Sumpah Pemuda
peristiwaterkininews.com,

Jakarta,-Museum Sumpah Pemuda di Jakarta memiliki nilai sejarah yang begitu penting bagi bangsa Indonesia. Di tempat inilah, para pemuda dari berbagai daerah berkumpul dan melahirkan ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Namun, sebelum menjadi museum, bangunan bersejarah tersebut dulunya hanyalah rumah kos milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Sie Kong Lian,Ra

Berdasarkan Buku Panduan Museum Sumpah Pemuda, Sie Kong Lian lahir di Jakarta pada tahun 1890 dan wafat pada 1954. Sekitar tahun 1920-an, ia mulai menyewakan rumahnya kepada para pelajar yang menuntut ilmu di STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen), sekolah kedokteran, serta Rechtschoogeschool, sekolah hukum ternama pada masa itu. Letak rumahnya yang strategis, tak jauh dari kedua sekolah tersebut, membuatnya ramai diminati sebagai tempat tinggal para mahasiswa.

Menurut Asep Firman Yahdiana, Pamong Budaya Ahli Muda pada Museum dan Cagar Budaya (MCB), Sie Kong Lian dikenal sebagai pengusaha sukses yang memiliki firma sendiri.

“Ia termasuk orang yang cukup berada. Saat rumahnya dijadikan kos-kosan, beliau tetap bisa tinggal di rumah lain miliknya,” jelas Asep saat ditemui di Museum Sumpah Pemuda, Jumat (24/10/2025).

Asep menambahkan, tanpa disadari, keputusan Sie Kong Lian untuk membuka rumahnya bagi para pelajar turut berperan dalam perjalanan sejarah bangsa.

“Bayangkan, rumah pribadi yang disewakan itu akhirnya menjadi tempat pertemuan, sekretariat, hingga lokasi berlangsungnya Kongres Pemuda II. Dari sana lahirlah ikrar Sumpah Pemuda yang menjadi tonggak persatuan Indonesia,” ungkapnya.

Bangunan utama rumah tersebut memiliki luas 343 meter persegi, dilengkapi dua paviliun seluas 54 meter persegi masing-masing, berdiri di atas lahan 1.285 meter persegi. Dahulu, bagian depan rumah bahkan memiliki meja biliar tempat para penghuni berkumpul. Berdasarkan catatan R. Katjasungka, ketua pengelola gedung pada 1928, rumah itu memiliki 11 kamar tidur, ruang rapat, kafetaria, dapur, kamar pembantu, kamar mandi, hingga gudang.

Setiap kamar dilengkapi dengan perabotan sederhana seperti tempat tidur, lemari, meja, dan kursi. Ukurannya pun bervariasi, mulai dari 6,2 x 3,7 meter hingga 4,3 x 3,7 meter di bangunan utama, sementara kamar di paviliun berukuran rata-rata 4,8 x 3,8 meter.

Beberapa tokoh penting yang pernah tinggal di rumah tersebut antara lain Amir Sjarifuddin, Mohammad Yamin, dan Mohammad Tamzil. Hampir seluruh penghuni rumah kos itu kemudian menjadi tokoh nasional yang berperan besar setelah Indonesia merdeka.

Biaya sewa kamar saat itu berkisar antara 7,5 Gulden tanpa makan dan 12,5 Gulden dengan makan tiga kali sehari. Menu yang disediakan antara lain telur goreng, daging, sambal goreng tempe, sayur lodeh, sambal bajak, hingga pisang. Menurut Asep, jika dikonversi ke nilai uang sekarang, 1 Gulden setara sekitar Rp120.000–150.000, sehingga hanya kalangan mampu yang dapat tinggal di sana.

Rumah tersebut digunakan sebagai kos hingga tahun 1934, setelah para penghuni lulus dan tidak memperpanjang sewa. Selanjutnya, rumah disewakan kepada Pang Tjem Jam (1934–1937) untuk tempat tinggal, lalu kepada Loh Jing Tjoe (1937–1948) yang menjadikannya toko bunga. Setelah Indonesia merdeka, bangunan itu sempat berganti fungsi menjadi Hotel Hersia (1948–1951) dan kantor Bea Cukai (1951–1970).

Pada 1973, bangunan bersejarah ini dipugar, dan setahun kemudian, 1974, resmi dibuka untuk umum sebagai Museum Sumpah Pemuda.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai sejarahnya, pada 2021, keluarga besar Sie Kong Lian memutuskan untuk menghibahkan rumah dan tanah tersebut kepada negara, melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).

“Dalam surat hibahnya, keluarga menyatakan bahwa rumah ini sangat berharga bagi mereka, tetapi jauh lebih berharga bagi bangsa Indonesia. Mereka ingin bangunan ini terus menjadi pengingat akan semangat persatuan para pemuda,” tutup Asep.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *