Tempe Sabar, Gerakan Lingkungan dan Sosial dari Malang yang Menulari “Virus Kebaikan”

Tempe Sabar, Gerakan Lingkungan dan Sosial dari Malang yang Menulari “Virus Kebaikan”

Tempe Sabar, Gerakan Lingkungan dan Sosial dari Malang yang Menulari “Virus Kebaikan”
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,- Gerakan peduli lingkungan Tempe Sabar terus menunjukkan eksistensinya di tengah masyarakat Kota Malang. Komunitas yang kini dikenal sebagai Tempat Pemilahan Sampah Barokah ini bukan sekadar wadah pengelolaan sampah, melainkan juga ruang pemberdayaan sosial dan ekonomi bagi warga sekitar.

Ketua Relawan Tempe Sabar, Susiana Ita, menjelaskan bahwa nama “Tempe” dipilih bukan tanpa alasan.

“Karena tempe adalah ikon khas Malang, maka dari itu kami menggunakan nama itu. Namun, makna yang lebih kuat dari Tempe Sabar adalah singkatan dari Tempat Pemilahan Sampah Barokah,” ujarnya, Minggu (30/11/2025).

Menurutnya, gerakan ini tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga berdampak pada aspek ekonomi dan sosial masyarakat.Komunitas Tempe Sabar didirikan pada 14 Agustus 2022.

“Kami ingin menunjukkan bahwa peduli lingkungan bisa dimulai dari hal kecil, dari sampah,” tuturnya.

Masih lanjutnya, setiap hari Jumat setelah salat Jumat, para relawan menggelar kegiatan rutin bertajuk Jumat Sedekah. Warga sekitar diajak menyedekahkan sampah yang sudah dipilah dari rumah, mulai dari botol plastik, sol sepatu, hingga kaca pecah.

“Semua sampah itu dikumpulkan di pos komunal untuk kemudian dijual dan hasilnya disalurkan bagi masyarakat yang membutuhkan,” ucapnya.

Saat ini, Tempe Sabar memiliki sekitar 20 relawan aktif yang setiap pekan turun langsung ke lapangan. Selain relawan inti, komunitas ini juga menggandeng kelompok PKK dan Dasawisma setempat untuk turut serta dalam kegiatan pemilahan sederhana, seperti memilah tutup botol dan label kemasan.

Susiana Ita menuturkan bahwa konsep yang dijalankan Tempe Sabar mirip dengan bank sampah, tetapi dengan orientasi sosial yang lebih kuat.

“Kalau di bank sampah orang dapat uang, di kami orang dapat pahala. Karena ini gerakan sedekah, bukan jual-beli,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa hasil penjualan sampah digunakan untuk santunan anak yatim piatu, kaum duafa, petugas kebersihan, hingga penyandang disabilitas. Dalam tiga tahun, komunitas ini telah menyalurkan bantuan kepada 119 penerima manfaat.

Meski begitu, perjalanan Tempe Sabar tidak selalu mulus. Di awal berdirinya, sebagian warga masih bersikap skeptis terhadap konsep sedekah sampah.

“Ada yang bilang, ‘Kami sudah bayar petugas kebersihan, kenapa harus memilah lagi?’ Tapi sekarang mereka justru ikut mendukung,” ungkapnya.

Kini, gerakan Tempe Sabar berkembang pesat hingga lintas RW, kecamatan, bahkan kabupaten. Relawan menggunakan kendaraan roda tiga (tosa) untuk mengangkut sampah dari berbagai titik komunal.

“Kami membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari gerakan kecil, asal konsisten dan ikhlas,” katanya.

Bagi para anggota Tempe Sabar, kegiatan memilah sampah bukan hanya tentang kebersihan, tetapi juga tentang keberkahan.

“Kami ingin menjadi virus, tapi virus kebaikan,” pungkasnya.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *