Trunojoyo: Jejak Kehormatan dari Tanah Madura untuk Nusantara

Trunojoyo: Jejak Kehormatan dari Tanah Madura untuk Nusantara

Trunojoyo: Jejak Kehormatan dari Tanah Madura untuk Nusantara
peristiwaterkininews.com,

Surabaya, Jum’at (02/12/2025) – Pada 2 Januari 1680, menjadi penanda sejarah gugurnya salah satu tokoh besar dari tanah Madura, Pangeran Trunojoyo atau Panembahan Maduretno. Pada tanggal inilah beliau dieksekusi mati, mengakhiri perjuangan panjangnya melawan kekuasaan Kesultanan Mataram Islam yang sejak 1675 menimbulkan konflik besar di tanah Jawa. Namun kematian itu bukanlah kekalahan, melainkan penegasan sikap seorang pejuang yang memilih gugur demi kehormatan daripada tunduk pada kekuasaan yang menindas.

Pangeran Trunojoyo lahir dari kalangan bangsawan Madura dan dikenal sebagai sosok intelektual serta ahli strategi militer pada masanya. Ia bukan hanya pemimpin perang, tetapi juga pemikir politik yang menolak bentuk penaklukan sesama bangsa. Dalam pandangannya, tindakan Mataram yang memperluas kekuasaan hingga ke Surabaya dan wilayah pesisir adalah bentuk penjajahan terselubung yang harus dilawan. Maka perjuangannya bukan sekadar untuk Madura, melainkan juga untuk orang-orang Jawa yang ingin mempertahankan kedaulatan dan harga diri bangsanya.

Kekuatan pasukan Trunojoyo sempat mengguncang kekuasaan Mataram. Dalam berbagai pertempuran, pasukannya berhasil menguasai sejumlah wilayah penting hingga membuat Raja Amangkurat I kewalahan. Tak sanggup menghadapi kekuatan itu, Amangkurat akhirnya meminta bantuan kepada pihak asing, yakni VOC. Langkah tersebut menjadi catatan kelam dalam sejarah Nusantara lebih tepatnya ketika penguasa bumi putera rela bersekutu dengan penjajah demi menumpas perlawanan rakyat sendiri.

Meski akhirnya tertangkap dan dieksekusi di Kartasura, Pangeran Trunojoyo tetap menunjukkan keteguhan luar biasa. Hingga di hadapan algojo, beliau tak gentar menatap maut. Ia tidak melarikan diri, tidak menyerah, dan tidak berkhianat pada cita-citanya. Peperangan yang ia pimpin disebutnya sebagai “perang suci”, perjuangan yang lahir dari keyakinan dan keberanian untuk mempertahankan martabat bangsa dari penindasan. Sikapnya itu menjadikannya simbol ksatria sejati yang menjunjung kehormatan di atas segala kepentingan duniawi.

Kini, nama Pangeran Trunojoyo memang diabadikan sebagai nama universitas, jalan, hingga bandara, namun makna perjuangannya kerap dilupakan. Banyak yang mengenalnya sebagai nama besar, tetapi sedikit yang memahami nilai-nilai yang ia perjuangkan. Dua abad sebelum Pangeran Diponegoro mengangkat senjata, Trunojoyo telah lebih dulu menyalakan api perlawanan, membuktikan bahwa semangat membela kehormatan dan kebebasan telah tumbuh dari tanah Madura jauh sebelum masa pergerakan nasional.

Generasi muda Madura baik di tanah kelahiran maupun di perantauan seharusnya bangga memiliki pahlawan sekaliber Pangeran Trunojoyo. Ia adalah simbol intelektualitas, keberanian, dan martabat bangsa. Di tengah euforia kemajuan zaman, mengenang Trunojoyo bukan sekadar penghormatan sejarah, tetapi upaya menjaga nyala semangat perjuangan agar tidak padam. Sebab bangsa yang melupakan leluhurnya bukan hanya kehilangan identitas, tetapi juga kehilangan arah masa depannya.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Comment

  • Pangeran Trunojoyo bagi muda-mudi madura sekarang tak ubahnya sebuah dongeng,yang hanya di ceritakan dan bangga ketika di kisah kan.
    Mereka butuh edukasi untuk kesadaran akan sejarah dan meneladaninya.
    Tetaplah berkarya untuk sang penulis demi mencapai kecerdasan bangsa.
    👍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *