Ngaji Cafe to Cafe di Kejapanan, Dihadiri Pemuka Lintas Agama dalam Doa Bersama

Ngaji Cafe to Cafe di Kejapanan, Dihadiri Pemuka Lintas Agama dalam Doa Bersama

Ngaji Cafe to Cafe di Kejapanan, Dihadiri Pemuka Lintas Agama dalam Doa Bersama
peristiwaterkininews.com,

PASURUAN — Suasana berbeda terlihat dalam gelaran rutinan Ngaji Cafe to Cafe (NCTC) yang digelar di Cafe Lumbung Nusantara, Kejapanan, Gempol, Kabupaten Pasuruan, Selasa (18/8/2026) malam.

Mengusung tema Tasyakuran Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dan Maulid Nabi Muhammad SAW, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum peresmian pembukaan Cafe Lumbung Nusantara, santunan anak yatim, serta doa bersama lintas agama.

Sekitar 300 jamaah dan warga sekitar hadir dalam kegiatan yang berlangsung mulai pukul 19.00 hingga 22.30 WIB tersebut. Yang membuat acara semakin istimewa, hadir sejumlah tokoh dan perwakilan dari berbagai organisasi keagamaan serta lintas agama.

Di antaranya Kepala dan perangkat Desa Kejapanan, Anggota DPR RI dari PAN H. Saiful Nuri, pengurus Nahdlatul Ulama (NU) beserta badan otonomnya, pengurus Muhammadiyah, pengurus LDII, pemuka agama dari GKJW, Gereja Rehobot, Gereja Katolik, Gereja Sion, serta mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Kegiatan yang diprakarsai melalui Ngaji Cafe to Cafe tersebut menunjukkan bahwa ruang-ruang publik seperti cafe juga dapat menjadi tempat bertemunya masyarakat untuk membangun persaudaraan, dialog, dan kerukunan.

Rangkaian acara diawali dengan penampilan Embun Band, kemudian dilanjutkan pembukaan oleh MC, penampilan paduan suara mahasiswa KKN UMM, santunan anak yatim, pembacaan sholawat Nabi, sambutan-sambutan, serta kajian yang disampaikan oleh Gus Romy Syib (GRS).

Dalam kajiannya, GRS mengangkat pesan tentang pentingnya persatuan dan persaudaraan dengan merujuk pada Surah Al-Hujurat ayat 13, khususnya pesan bahwa perbedaan manusia merupakan bagian dari ketetapan Allah agar manusia saling mengenal, bukan saling merendahkan.

Menurut GRS, persatuan tidak harus dibangun dengan menghilangkan perbedaan. Justru perbedaan harus menjadi ruang untuk saling mengenal, memahami, dan menghormati.

“Alhamdulillah ternyata Muhammadiyah tidak anti Maulid dan tahlil. Kalaupun ada yang berbeda itu lumrah dan harus saling menghormati,” ujar GRS dalam kajiannya.

Ia juga menyoroti suasana unik yang terjadi malam tersebut. Para tokoh dari berbagai organisasi Islam dan pemuka agama dapat duduk bersama dalam satu forum tanpa harus menghilangkan identitas dan keyakinan masing-masing.

“Yang menarik ternyata pendeta pun bisa menyampaikan Wallahu a’lam, dan bisa assalamualaikum dengan fasih,” lanjut GRS, disambut suasana hangat jamaah.

Salah satu momen yang paling menarik perhatian dalam kegiatan tersebut terjadi ketika para pemuka agama dan tokoh organisasi keagamaan secara bergantian menyampaikan doa.

Doa bersama tersebut dilakukan secara bergiliran oleh perwakilan agama yang hadir. Momen tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak harus menjadi alasan untuk membangun jarak dalam kehidupan bermasyarakat.

Setelah sesi kajian dan tanya jawab, acara dilanjutkan dengan pemotongan pita sebagai simbol peresmian Cafe Lumbung Nusantara serta pemotongan tumpeng.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama lintas agama dan penampilan duet GRS bersama Embun Band.

Bagi penyelenggara, Ngaji Cafe to Cafe bukan sekadar memindahkan kegiatan pengajian dari masjid atau majelis ke cafe. NCTC ingin menghadirkan ruang dakwah yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus menjadikan ruang publik sebagai tempat bertemunya berbagai elemen masyarakat.

Kegiatan di Cafe Lumbung Nusantara tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa semangat Maulid Nabi, rasa syukur atas kemerdekaan, dan kehidupan kebangsaan dapat dipertemukan melalui satu pesan sederhana: berbeda bukan alasan untuk berselisih, tetapi kesempatan untuk saling mengenal, menghormati, dan memperkuat persaudaraan.

Melalui kegiatan tersebut, Ngaji Cafe to Cafe kembali menegaskan semangatnya untuk menghadirkan dakwah yang sejuk, terbuka, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *