BROMO — Sastra Lumpur dari Saung Indonesia bersama Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga menghadirkan kelas puisi lintas budaya bagi mahasiswa asing di kawasan Bromo. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini merupakan bagian dari Praktik Kuliah Lapangan Folklor dan Pelatihan Menulis Puisi yang dirancang untuk mempertemukan pengalaman akademik, kebudayaan, dan kreativitas dalam satu ruang pembelajaran.
Peserta yang berasal dari berbagai negara dan latar belakang disiplin ilmu diajak mengenal puisi tidak hanya sebagai karya sastra, tetapi juga sebagai cara memahami pengalaman, merekam ingatan, dan membaca lingkungan sekitar. Melalui pengamatan langsung terhadap lanskap alam dan kehidupan masyarakat di kawasan Bromo, para peserta memperoleh bahan yang kemudian diolah menjadi karya puisi.
Dalam sesi pelatihan, peserta mendapatkan materi mengenai teknik penulisan puisi, pengembangan gagasan, pembangunan citraan, serta pengolahan pengalaman menjadi bahasa yang puitis. Diskusi berlangsung aktif dengan menghadirkan beragam perspektif mengenai budaya, identitas, dan pengalaman hidup dari negara asal masing-masing peserta.
Selain penyampaian materi, kegiatan ini juga menekankan praktik kreatif. Para peserta diajak mengamati lingkungan sekitar, mencatat berbagai temuan yang menarik perhatian, kemudian mengembangkannya menjadi puisi. Pendekatan ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk menghubungkan pengalaman lapangan dengan proses penciptaan karya sastra.
Salah satu keunikan kegiatan ini adalah penggunaan mesin tik tua sebagai media praktik menulis. Di tengah dominasi perangkat digital, para peserta memperoleh pengalaman yang berbeda ketika menuliskan puisinya melalui bunyi ketukan tuts dan ritme kerja mesin tik yang lebih lambat. Pengalaman tersebut menghadirkan suasana menulis yang lebih reflektif sekaligus memperkenalkan teknologi tulis yang kini jarang digunakan.
Kegiatan ini tidak berhenti pada proses pembelajaran. Seluruh karya yang dihasilkan peserta akan dihimpun dan diterbitkan dalam sebuah buku sebagai dokumentasi kreatif sekaligus jejak pertemuan berbagai budaya dalam satu ruang sastra.
Adnan Guntur, fasilitator pelatihan sekaligus penggagas Sastra Lumpur, menilai keberagaman latar belakang peserta menjadi kekuatan penting dalam proses kreatif yang berlangsung selama kegiatan.
“Puisi adalah ruang perjumpaan. Ketika berbagai bahasa, budaya, dan pengalaman hidup bertemu, lahirlah cara-cara baru untuk melihat dunia. Saya melihat para peserta tidak hanya belajar menulis puisi, tetapi juga belajar mendengarkan dan memahami pengalaman satu sama lain melalui bahasa sastra,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga atas kesempatan kolaborasi yang diberikan.
“Terima kasih kepada Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga yang telah mengundang Sastra Lumpur dari Saung Indonesia untuk berbagi kuliah singkat tentang puisi selama dua hari. Semoga kolaborasi ini dapat terus memperkuat pertukaran budaya, kreativitas, dan apresiasi sastra di kalangan mahasiswa internasional,” kata Adnan.
Melalui kegiatan ini, Sastra Lumpur dari Saung Indonesia dan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga tidak hanya menghadirkan ruang belajar menulis puisi, tetapi juga membangun dialog antarbudaya yang mempertemukan beragam suara, pengalaman, dan tradisi dalam satu proses kreatif. Kegiatan ini menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan sekaligus memperkaya cara manusia memahami dunia.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
