Dorong Aksara Jawa Agar Masuk Kurikulum Pendidikan

Dorong Aksara Jawa Agar Masuk Kurikulum Pendidikan

Dorong Aksara Jawa Agar Masuk Kurikulum Pendidikan
peristiwaterkininews.com,

JAKARTA — Berawal dari keresahan terhadap kelestarian budaya leluhur, Paguyuban Aksara Jawa Nusantara terus berjuang agar Aksara Jawa dapat masuk ke dalam kurikulum pendidikan formal. Langkah nyata ini dibuktikan dengan kunjungan pengurus paguyuban ke Kantor Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI) di Jakarta, Jumat (9/10/2026).

Audiensi ini diprakarsai oleh pendiri paguyuban, M. Taufik Hidayat, S.Pd., atau yang akrab disapa Taufik Monyong, bersama dua rekannya. Kedatangan mereka disambut langsung oleh Kepala Badan (Kaban) Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen RI, Hafidz Muksin, S.Sos., M.Si.

Dalam pertemuan tersebut, Taufik Monyong memaparkan sejumlah langkah strategis yang telah ditempuh paguyubannya sejak didirikan pada 2021. Upaya tersebut meliputi pendaftaran Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) Kartu Aksara Jawa pada 5 Maret 2026, audiensi dengan Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur pada 14 Juli 2026, peluncuran Kartu Aksara Jawa di Galeri Prabangkara Dewan Kesenian Jawa Timur pada 23 Juli 2026, hingga sosialisasi kepada guru sekolah dasar, menengah, dan masyarakat luas.

“Langkah-langkah yang sudah kita tempuh adalah dengan mendaftarkan Kartu Aksara Jawa ke HAKI, beraudiensi dengan Komisi E DPRD Provinsi Jatim, menggelar launching Kartu Aksara Jawa, serta sosialisasi ke berbagai daerah,” ujar Taufik Monyong.

Menanggapi hal tersebut, Hafidz Muksin menyambut baik dedikasi dan inovasi yang ditunjukkan oleh Paguyuban Aksara Jawa Nusantara. Ia menilai penggunaan media kartu merupakan solusi kreatif untuk mengenalkan aksara daerah dengan cara yang menyenangkan bagi peserta didik.

“Ini adalah gagasan inovatif yang lahir dari sebuah kepedulian akan budaya warisan leluhur. Media kartu menjadi solusi bagaimana mengenalkan sesuatu yang mungkin dianggap sulit, tapi menyenangkan untuk dilakukan,” ungkap Hafidz. Ia menambahkan, untuk tahap awal, metode ini dapat diintegrasikan melalui berbagai kegiatan perlombaan, seperti seni lukis atau menyanyi.

Kendati demikian, Hafidz menjelaskan bahwa untuk memasukkan Aksara Jawa ke dalam kurikulum pendidikan nasional, pihak kementerian memerlukan tahapan riset, kajian, serta analisis yang mendalam. Kebijakan ini nantinya tidak hanya berfokus pada Aksara Jawa saja, melainkan juga membuka ruang bagi aksara daerah lainnya di Nusantara.

Melalui upaya berkelanjutan ini, Paguyuban Aksara Jawa Nusantara berharap aksara daerah tidak sekadar dipelajari sebagai catatan sejarah, melainkan kembali hidup dan menjadi bagian dari jati diri serta identitas keseharian masyarakat Nusantara.

*) Oleh : Red

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *