Surabaya, -Modus berpura-pura menanyakan arah diduga digunakan dua pria untuk merampas ponsel milik seorang bocah berinisial F berusia 12 tahun.
Siswa kelas 6 SD itu menjadi korban perampasan saat bermain bersama dua temannya di sekitar Terminal Bus, dekat Jembatan Suramadu.
Peristiwa tersebut bermula ketika dua pria yang berboncengan menggunakan sepeda motor Honda Vario menghampiri F dan teman-temannya. Kedua pria itu kemudian berpura-pura menanyakan arah menuju Madura.
Berdasarkan cerita F kepada orang tuanya, kedua pria tersebut menggunakan helm. Namun, wajah mereka tidak tertutup masker. Peristiwa itu terjadi pada Minggu siang (9/8/2026).
“Dia pura-pura tanya, ‘Madura di mana, Dek?’ Anak saya kemudian mengantar sampai ke sisi barat,” ujar ayah F, Samsuri dikonfirmasi Awak Media, Kamis (13/8/2026).
F yang semula tidak menaruh curiga kemudian mengantar kedua pria tersebut hingga sisi barat kawasan tersebut. Namun, setelah sampai di lokasi, situasi berubah.
Salah seorang pelaku meminta untuk meminjam ponsel milik F. Permintaan itu ditolak. Pelaku kemudian diduga memaksa hingga akhirnya berhasil merampas ponsel Vivo milik korban.
“Mau pinjam HP. Enggak dibolehkan. Dia (pelaku) maksa. Akhirnya HP itu diambil. Langsung lari,” kata Samsuri menirukan cerita anaknya.
Setelah ponsel dirampas, F sempat berusaha mengejar kedua pelaku. Namun, upaya tersebut sia-sia. Kedua pria itu langsung mengendarai motornya menuju Jembatan Suramadu dengan arah ke Madura.
Samsuri kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Kenjeran pada Senin (10/8/2026). Laporan itu dibuat agar kejadian serupa tidak kembali menimpa anak-anak maupun warga lainnya di sekitar lokasi.
Samsuri mengaku tidak terlalu mempermasalahkan nilai ponsel yang hilang. Namun, dia berharap polisi tetap menindaklanjuti laporan tersebut secara serius.
“Kalau dibiarkan, ditakutkan ada korban lagi,” tegasnya.
Dia juga menduga aksi tersebut bukan kali pertama terjadi. Dugaan itu muncul karena sebelumnya dia mendengar adanya kejadian perampasan lain di kawasan tersebut.
Menurut Samsuri, penangkapan pelaku penting dilakukan untuk memberikan efek jera. Sebab, jika tidak ada tindakan tegas, dia khawatir modus serupa kembali dilakukan dan menyasar korban lain.
“Kalau bisa dari pihak kepolisian menangkap pelakunya. Kalau tidak ditangkap, tidak ada efek jeranya. Memang ini sepele, hanya HP. Tapi dampaknya kalau tidak ditangani serius, nanti bisa ada korban lagi,” ujarnya
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
