Apa yang Tersisa Setelah Emesis

Apa yang Tersisa Setelah Emesis

Apa yang Tersisa Setelah Emesis
peristiwaterkininews.com,

Surabaya,-Ada satu momen setelah pertunjukan selesai ketika lampu kembali menyala dan para penonton perlahan meninggalkan ruang pertunjukan. Namun anehnya, saya merasa seolah

pertunjukan itu belum benar-benar berakhir. Ada sesuatu yang masih tertinggal. Bukan hanya adegan-adegannya, melainkan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Emesis bukan pertunjukan yang mengajak penontonnya mengikuti sebuah cerita secara lurus. Ia lebih menyerupai perjalanan memasuki ruang yang sangat pribadi, ruang yang dipenuhi oleh ingatan, ketakutan, kehilangan, dan hal-hal yang selama ini mungkin kita simpan jauh di dalam diri.

Melalui perpaduan film dan teater, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman yang terasa intim sekaligus mengganggu, seolah-olah penonton sedang menyaksikan sesuatu yang tidak seharusnya terlihat, tetapi juga tidak bisa diabaikan.

Di pusat perjalanan tersebut terdapat Sabi.Tokoh ini tidak hadir sebagai sosok pahlawan ataupun korban yang meminta belas kasihan. Sabi hadir sebagai manusia. Rapuh, kebingungan, marah, takut, dan berusaha bertahan.

Melalui kehadirannya di atas panggung, aktor yang memerankan Sabi saya rasa berhasil menghadirkan pengalaman yang terasa begitu dekat. Ada banyak momen ketika ia tidak melakukan apa-apa selain diam, tetapi justru dalam diam itulah penonton dapat melihat begitu banyak hal yang sedang berlangsung di dalam dirinya. Saya tidak merasa sedang menyaksikan seorang karakter fiksi. Saya merasa sedang melihat seseorang yang sedang berusaha hidup dengan beban yang terlalu berat untuk dibawa sendirian.

Yang membuat pengalaman tersebut semakin kuat adalah bagaimana sutradara memilih untuk tidak menjelaskan semuanya secara langsung. Alih-alih memberikan jawaban, ia membangun dunia yang terfragmen, dan ruang kosong yang harus diisi sendiri oleh penonton. Air yang terus muncul sepanjang pertunjukan, ruang yang terasa sempit dan menekan, hingga lanskap yang sunyi, semuanya bekerja seperti ingatan. Tidak pernah hadir secara utuh, tetapi cukup kuat untuk meninggalkan jejak.

Pilihan untuk mempertemukan film dan teater juga menjadi salah satu aspek yang paling menarik. Film dalam Emesis tidak sekadar menjadi latar atau ilustrasi bagi pertunjukan panggung. Ia hadir sebagai lapisan lain dari kesadaran tokohnya. Dalam beberapa momen, batas antara apa yang nyata dan apa yang hanya hidup dalam ingatan menjadi kabur. Sebagai penonton, saya merasa diajak masuk ke dalam kepala Sabi, menyaksikan bagaimana sebuah peristiwa dapat terus hidup dan berulang bahkan ketika semuanya telah berlalu.

Namun yang paling membekas dari

Emesis bukanlah bentuk artistiknya, melainkan pertanyaan yang diam-diam

ditinggalkannya.

Di tengah kehidupan generasi muda hari ini, ketika kita dituntut untuk terus bergerak, terus produktif, dan terus terlihat baik-baik saja, ada begitu banyak pengalaman yang akhirnya dipendam sendirian. Kesepian, kecemasan, kehilangan, trauma, dan rasa takut sering kali tidak memiliki ruang untuk dibicarakan. Kita hidup di zaman yang membuat kita semakin terhubung, tetapi pada saat yang sama semakin sulit untuk benar-benar didengar.

 

Dalam konteks itulah Emesis terasa penting. Pertunjukan ini tidak berbicara tentang satu orang saja. Ia berbicara tentang banyak orang yang mungkin selama ini berusaha bertahan dalam diam. Tentang mereka yang terus berjalan sambil membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai.

Tentang mereka yang belajar hidup berdampingan dengan luka yang tidak selalu bisa disembuhkan.

 

Ketika pertunjukan berakhir, saya tidak membawa pulang jawaban. Saya justru membawa pulang pertanyaan tentang diri saya sendiri. Tentang hal-hal yang selama ini saya hindari. Tentang ingatan yang masih tinggal. Tentang orang-orang yang pernah hadir lalu pergi. Dan mungkin, itulah kekuatan terbesar Emesis.

 

Ia tidak meminta kita untuk memahami semuanya.

Ia hanya meminta kita untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri sendiri, dan menyadari bahwa beberapa hal tidak pernah benar-benar hilang.

 

Mereka hanya berpindah tempat, mengendap, menunggu, lalu kembali ketika kita paling tidak siap.

Dan setelah malam itu, saya merasa Emesis adalah salah satu dari hal-hal tersebut.

Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!

*) Oleh : Gatra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *