Surabaya, – Pembagian bantuan pangan di Gedung PKK Kelurahan Sidotopo Wetan berubah menjadi potret buruk pelayanan publik. Alih-alih membantu, pelaksanaan yang amburadul justru memperlihatkan ketidaksiapan penyelenggara dalam mengelola distribusi bantuan, Senin (27/04/2026).
Sejak pagi, antrean warga sudah mengular tanpa kepastian. Mereka datang membawa undangan resmi, berharap mendapatkan haknya, fakta di lapangan menunjukkan lemahnya perencanaan. Sistem antrean yang seharusnya menjadi solusi malah berubah menjadi formalitas tanpa makna, karena tidak diiringi manajemen waktu dan kapasitas yang jelas.
Kekecewaan warga pun memuncak, banyak yang rela meninggalkan pekerjaan, mengorbankan waktu dan tenaga, namun berujung pulang dengan tangan kosong sebuah ironi dari program yang seharusnya meringankan beban masyarakat.
Salah satu warga Bulak Banteng Wetan, Tojibah , secara tegas menyebut pelaksanaan ini jauh dari kata profesional. Ia menilai penyelenggara gagal memahami hal mendasar dalam pelayanan publik.
“Saya datang pukul 09.00 WIB, sesuai undangan dan nomor antrean. Tapi sampai sore malah ditutup. Ini bukan sekadar mengecewakan, ini mempermainkan warga,” tegasnya.
Ia juga menyoroti ketidakjelasan teknis di lapangan. Menurutnya, pembagian nomor antrean dan barisan hanya menjadi pajangan tanpa perhitungan realistis.
“Di papan sudah jelas pembagian antrean, tapi tidak ada hitungan waktu sama sekali. Warga disuruh menunggu berjam-jam tanpa kepastian. Ini bukan kelalaian biasa, ini bukti ketidaksiapan total,” lanjut Tojibah.
Lebih parah lagi, ketika warga mencoba meminta kejelasan, respons yang diterima justru mencerminkan buruknya etika pelayanan. Dugaan adanya petugas yang marah hingga menggebrak meja semakin memperkeruh situasi.
“Apakah ini yang disebut pelayanan masyarakat? Warga datang baik-baik, tapi diperlakukan seperti tidak punya hak,” tambahnya dengan nada geram.
Peristiwa ini menjadi tamparan keras bagi penyelenggara bantuan sosial. Tanpa manajemen yang matang, transparansi, dan sikap profesional, program bantuan hanya akan berubah menjadi panggung ketidakbecusan yang melukai kepercayaan publik.
Apa pendapatmu? Tulis di kolom komentar dengan sopan dan beretika. Jangan lupa bagikan agar semakin banyak yang tahu!
